Dalam memahami seseorang, kerap kali kita harus melihat terlebih dahulu bagaimana dia melalui proses panjang kehidupannya (La Kahija, 2017:5), apalagi seorang Nabi yang memiliki pengalaman historis bersama Al-Quran. Untuk mampu memahami Muhammad, salah satu upaya terbaik ialah membaca segala informasi yang berkaitan dengan hidupnya, baik yang menjadikan dirinya sebagai penutur dan lakon itu sendiri (hadis), ataupun lewat kisah yang memotret setiap segmen kehidupan dirinya (riwayat). Bahkan, Al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan padanya ikut mengomentari dan merekam jejak hidupnya.
Memahami Muhammad menjadi topik yang menarik untuk kita perbincangkan. Perlu diingat bahwa Muhammad sendiri sama seperti kita pada umumnya yang mempunyai sifat kemanusiaan. Terkadang kita lupa bahwa dia juga manusia biasa, namun tak jarang ada beberapa orang kadang memposisikannya terlalu berlebihan dengan tidak menyamakan Muhammad sebagai manusia dan Muhammad sebagai Rasul utusan Allah.
Terlepas dari semua perbedaan itu, William Montgomery Watt memosisikan historis Muhammad sebagai suatu anekdot yang mengumpulkan berbagai kejadian kisah pada hidupnya, baik itu pada Al-Quran maupun kajian hadis dan sirah (Watt, 1961:229). Berbeda dengan Welch, pandangannya terkait catatan sirah dan hadis sebagai sumber sejarah agaknya kurang bisa terpenuhi. Ia mempunyai pandangannya sendiri melihat sosok Muhammad.
Alford T. Welch mengajak kita untuk memperhatikan lebih dalam lagi, bagaimana posisi seseorang yang menerima wahyu al-Quran. Karena dia sendiri manusia, kita tentunya harus mempunyai pemaknaan akan Muhammad yang juga seorang manusia. Welch menggambarkan bagaimana seorang manusia disapa langsung ataupun diberi wahyu kepadanya, beberapa dari kita mungkin tidak akan mengalaminya. Hanya manusia terpilihlah yang beruntung mengalami hal demikian.
Berangkat dari sini, Welch memfokuskan pemaknaannya atas Muhammad pada Al-Quran, karena merasa sumber utama kehidupan Muhammad adalah al-Quran itu sendiri. Al-Quran diposisikan sebagai sumber sejarah olehnya, teksnya yang otentik berkelanjutan menanggapi dan merespons situasi Muhammad. Kerap kali dhamir (kata ganti) orang kedua “engkau” diindikasikan hanya kepada Muhammad. Maka dengan itu Welch kuat dalam pandangannya (Welch, 1983:17).
Secara tidak langsung jika dia hanya berfokus pada sumber literatur tekstual Al-Quran saja, maka seolah Welch mengesampingkan sumber riwayat Islam yang lain. Apakah cukup hanya dengan melalui teks al-Quran saja untuk memahami potret Nabi selama keberlangsungan hidupnya. Dan kita sebagai umat muslim apakah sudah punya pemahaman atas Muhammad itu sendiri, kemudian bagaimana Muhammad memahami dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang Nabi?
Al-Quran sebagai Kesaksian Utama Hidup Muhammad
Fungsi utama Al-Quran bukan hanya sekumpulan aturan dan doktrin agama saja, melainkan lebih luas daripada itu, Al-Quran pun ikut serta dalam mengungkap aspek-aspek personal Nabi Muhammad. Seakan Al-Quran adalah saksi utama pergolakan batin Muhammad menghadapi dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya pada saat itu. Di beberapa ayat acapkali secara eksplisit Allah menanggapi keadaan Muhammad atas permasalahan yang dihadapinya.
Jika kita membaca sirah atau tarikh Nabawiyah, pergulatan antara Muhammad dengan Quraisy selalu digambarkan dengan penuh cacian dan makian. Potret kehidupannya waktu di kota Mekkah dipenuhi dengan cobaan dan tekanan yang bertubi-tubi dari luar, yang membuatnya terbentur sana-sini (Al-Mubarakfuri, 2011:153). Di sinilah Al-Quran mempunyai figur utama dalam keberlangsungan dakwah Muhammad membentuk dan meneguhkan semangat emosionalnya meladeni umat.
Respons atas situasi Muhammad ketika berhadapan dengan lingkungan masyarakat Quraisy, bisa kita lihat di beberapa Surah dalam Al-Quran, seperti pada surah Adh-Dhuha, Al-Insyirah, dan Al-Kautsar. Al-Quran merespons langsung posisi Muhammad pada saat itu, kita perlu bayangkan bagaimana batin Muhammad melewati kejadian demi kejadian yang menimpanya. Seorang manusia biasa apakah bisa melewati hal demikian tanpa disokong oleh keterlibatan wahyu.
Surah Adh-Dhuha memberikan kita gambaran bagaimana seorang Rasul Allah difitnah dan diolok-olok oleh umatnya. Akan tetapi Al-Quran memberikan semangat dan kekuatan baginya yang mengatakan “Tuhanmu tidak akan meninggalkan dan tidak pula membencimu.” Secara historis ayat ini turun untuk menghibur Nabi akan dakwahnya yang terus saja diwarnai dengan ketidakpercayaan dan ejekan kaum Quraisy akan Tuhan Muhammad dan Al-Quran.
Sifat kemanusiaannya tertulis jelas pada Al-Anam[6]:33, yang mengelaborasi bahwa dia sebagai manusia juga berhak untuk bersedih ketika kemauannya tidak berpihak. Welch berpendapat bahwa ketika ada ayat yang bertema perintah untuk bersabar dan beribadah, itu mengindikasikan bahwa Muhammad itu terkadang ada pada posisi tekanan batin yang sangat hebat, hampir saja dia putus asa pada dirinya sendiri untuk memberhentikan dakwahnya.
Cerminan Al-Quran tentang Muhammad yang bisa makan, minum, dan berjalan di pasar itu sangat jelas di Surat Al-Furqan[25]:20. Terutama ketika Al-Quran menampakan keberakhiran masa hidupnya pada Ali Imron[3]:144. Itu juga menjadi sebuah bentuk konkrit kemanusiaan Nabi Muhammad. Disini bisa kita lihat dialog dan komentar itu selalu hidup mengisi ruang kosongnya, dan dapat diartikan bahwa kenabiannya itu tidak menegasikan kemanusiaannya.
Al-Quran tiada bosan menghibur Muhammad untuk bangkit dari penganiayaan dan kekecewaannya. Namun pertanyaannya ketika Al-Quran dijadikan sebagai sumber sejarah apakah sudah cukup? Lantas riwayat sirah, tarikh, dan fragmen yang lain akankah mempengaruhi pembacaan sejarah. Yang saya ingin sampaikan bahwa Welch di sini ingin membedakan antara Al-Quran sebagai ranah historis, dengan Al-Quran sebagai sirah, sejarah, atau tarikh.
Welch punya anggapan bahwa al-Quran bisa menjadi sumber sejarah dan dapat diandalkan jika ditafsirkan dengan benar. Karena secara biografi penulisannya ia berasal dari zaman Muhammad. Berbeda dengan tafsir, hadis, dan sirah, sebagaimana Munim Sirry berpendapat bahwa penulisannya yang muncul belakangan, sumber awal yang tidak jelas, serta lebih pro terhadap kaum muslimin itu sendiri dibandingkan dengan faktanya (Sirry, 2017:14).
Pergeseran Peran Muhammad
Pada tulisannya Welch memberikan distingsi antara peran Nabi ketika di Mekkah dan Madinah. Welch mencontohkan ketika otoritas Muhammad berubah pada saat pra-perang Badar, posisinya secara implisit berganti dari seorang pengkhutbah/pengingat (nadhir) menjadi peran otoritas yang lebih luas. Seperti ketaatannya disamakan dengan taat kepada tuhan yang terekam di surah An-Nisa[3]:80, jauh berbeda ketika dirinya berada di Mekkah.
Kehidupan Muhammad di Mekkah diwarnai dengan ujaran kebencianan dan penolakan, bahkan ia disebut gila (majnun), dan penyair. Jelas sekali al-Quran menolak adanya klaim Quraisy tersebut. Bahkan Welch beranggapan pada masa-masa awal pewahyuan, konsepsi tentang wahyu berbeda dengan anggapan pada umumnya. Seakan wahyu itu pernah turun tanpa perantara malaikat Jibril, yang mana pada kemudian masa berevolusi menjadi ruhul amiin dan ruuhul qudus.
Konsep wahyu ini banyak menarik perhatian di kalangan sarjanawan muslim khususnya yang menempuh studi Quran. Welch menyandarkan pendapatnya pada Surah asy-Syura[42]:51, dia menyampaikan bahwa tidak ada ayat eksplisit yang merepresentasikan bahwa wahyu dibawa oleh Jibril. Dan rupanya dia lagi-lagi menginginkan ayat yang harus menyatakannya secara tegas (Dalam & Qur, 2013:79). Welch sangat tekstualis sekali menyikapi hal ini.
Fenomena wahyu selalu memacu polemik yang berkepanjangan, terkhusus pada diskursus pemikiran teologi islam. Watt mempunyai pandangan yang tidak jauh dengan umat Islam, ia meyakini bahwa wahyu tidak lahir dari kesadaran Muhammad. Baginya wahyu dideduksi sebagai yang muncul dan datang dari eksternal, baik ketika Muhammad pada saat menerimanya dalam keadaan sadar, atau di bawah kesadarannya (Fawatih, 2020:23).
Tantangan yang diajukan oleh para pemuka kota Mekkah sangat bervariatif, mereka menantang Muhammad untuk membuat keajaiban seperti yang dilakukan oleh Musa. Posisi inilah yang selalu ditegaskan Al-Quran pada periode mekkah awal bahwa dirinya hanyalah seorang pengingat sebagaimana Ar-ra’d[13]:40, dan tidak memaksa orang yang menerima dakwahnya itu untuk beriman. Peran Muhammad di titik ini memang belum memberikan kontras yang substansial.
Peran Muhammad di Madinah ditunjang dengan pemahamannya sendiri terhadap transisi yang direpresentasikan oleh Al-Quran. Pengalaman kenabiannya menjadi suatu konsep yang mengimplikasikan bahwa diri Muhammad itu dinamis, kompleks, dan tentunya selalu ada perubahan. Oleh karena itu, potret yang telah disajikan Al-Quran terhadap kepribadian Muhammad memiliki keunikan tersendiri. Ceritanya memiliki ruang khusus untuk berdialog dengan Nabi.
Pergeseran ini menjadi suatu pemahaman yang bertahap dan berkembang bagi dirinya sendiri. Al-Quran bisa menunjukan bagaimana awal mula Muhammad sebagai pencari jaminan ilahi di tengah penolakan dan penganiayaan, bertransformasi menjadi seorang pemimpin negara dengan otoritas yang mapan. Terlepas dari perdebatan apakah Muhammad mengambil kekuasaan itu dengan sukarela atau terpaksa, namun pastinya al-Quran telah mengejawantahkannya secara jelas.
Pemahaman Muslim pada Muhammad
Sosok Muhammad umum kita ketahui sebagai orang yang lugu, jujur, dan penuh dengan kharisma. Namun yang kita harus akui adalah sampai mana muslim sekarang mengetahui sosok Muhammad sebagai penerima wahyu. Karena bagaimanapun beliau sebagai Nabi tidak pernah mengharapkan gelar tersebut melekat padanya, sebagaimana pada surat Al-Qasas[28]:86, maka Muhammad understanding menjadi suatu aspek penting dalam membaca Al-Quran.
Pada akhirnya apa yang ditampilkan oleh Al-Quran terhadap sosok Muhammad itu merupakan pagar untuk mencegah pengkultusan terhadap dirinya. Sebab secara konsisten Al-Quran merekam perkembangan dan penjalananannya secara bertahap dibentuk dan dibimbing oleh wahyu. Pemahaman Muhammad perihal dirinya sendiri bukan sesuatu yang instan, tetapi itu merupakan perubahan pemahaman yang signifikan, bagaimana dirinya memahami dirinya sendiri.
Singkatnya, keberadaan Nabi sebagai jembatan antara wahyu dan kehidupan sosial menjadi figur yang sangat central pada pemahaman sosok yang kita imani. Karena wahyu akan tetap menjadi teks yang beku dan sulit diaplikasikan jika kita tidak memahami karakter dan teladan Muhammad itu sendiri. maka Welch mengajak kita untuk merepleksikan kembali bahwa Al-Quran itu secara jelas berinteraksi bukan hanya dengan lingkungan sekitarnya saja, akan tetapi ia juga bergumul dengan penerima wahyunya sendiri. baik itu mengomentari perilakunya, merekam duka citanya, sampai menjadi peneguh dan penguat bagi Muhammad dalam melaksanakan dakwahnya.
Referensi
Al-Mubarakfuri, A. (2011). Sirah Nabawiyah (F. Irawan (ed.)). Ummul Qura.
Dalam, O., & Qur, P. A.-. (2013). Orientalis dan tokoh islam yang terkontaminasi dengan pemikiran orientalis dalam penafsiran al- qur’an. 1(2), 74–87.
Fawatih, A. L. (2020). Al fawatih. 1, 17–30.
La Kahija, Y. F. (2017). Penelitian fenomenologis: Jalan memahami pengalaman hidup. PT kanisius.
Sirry, M. (2017). Kemunculan Islam Dalam Kesarjanaan Revisionis. Suka Press13.
Watt, W. M. (1961). Muhammad Prophet And Statesman. Oxford University Press.
Welch, T. A. (1983). Islam Understanding Of Itself. In Muhammad’s Understanding of himself (pp. 16–52). Undena Publications.





