Lawh Mahfuuzh: Konsep Semesta dan Semesta Konsep

Tulisan ini memahami bahwa lawh mahfuuzh bukan hanya sekadar transmisi Al-Qur’an sebelum turun ke dunia dan juga bukan sekadar benda atau makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, tetapi lawh mahfuuzh adalah sebuah konsep yang hendak menjelaskan banyak hal. Karena itu, tulisan ini hendak menelisik konsep apa yang berada di balik kata lawh mahfuuzh dengan cara melihat bagaimana lawh mahfuuzh diungkapkan di dalam Al-Qur’an.

Ternyata, secara konsep, lawh mahfuuzh menyentuh banyak hal, termasuk garis besar alam semesta, relasi Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan secara umum, relasi Al-Qur’an dengan lawh mahfuuzh, kemakhlukan dan ketidakmakhlukan Al-Qur’an, eksternalitas dan internalitas Al-Qur’an, otonomi manusia dan kekuasaan Allah SWT, teologi lawh mahfuuzh, serta dimensi mistik lawh mahfuuzh.

Bacaan Lainnya

Nama-Nama Lawh Mahfuuzh

Ada banyak nama lain untuk lawh mahfuuzh di dalam Al-Qur’an seperti adz-dzikr (QS. al-Anbiya/21: 105);[1] imaam mubiin (QS. Yasin/36: 12);[2] kitaab mubiin (QS. al-Anam/6: 59);[3] kitaab maknuun (QS. al-Waqiah/56: 78);[4] umm al-kitaab (QS. al-Ra’d/13: 39);[5] dan kitaab (QS. al-Hadid/57: 22).[6] Berbagai macam penamaan itu hampir semua bermakna nasib/takdir/ketentuan. Hanya sekali di dalam Al-Qur’an disebutkan lawh mahfuuzh yaitu di dalam QS. al-Buruj/85: 21-22 dan itu tidak berarti nasib, tetapi berarti Al-Qur’an atau asal dari Al-Qur’an.

Nama lain dari lawh mahfuuzh adalah kitaab maknuun (kitab yang terpelihara) sebagaimana dalam QS. al-Waqiah/56: 78. Maksudnya, tidak terjamah oleh makhluk dan terletak di sisi Allah SWT sebelah kanan Arsy. Kalaupun ada yang “menjamah”, maka hanya para Malaikat as-Safrah karena suci dari dosa yang tempatnya di langit dunia. Kitaab maknuunitu dijaga langsung oleh Allah SWT setiap saat.[7]

Arti Kata Lawh dan Mahfuuzh

Kata lawh mahfuuzh atau al-lawh al-mahfuuzh terdiri dari lawh yang berarti lempengan, tablet, atau semacam benda keras berbentuk persegi agak lebar dengan permukaan rata. Di dalam QS. al-Araf/7: 145, 150, dan 154 disebutkan kata lawhdalam bentuk jamak yaitu alwaah yang diartikan dengan Taurat. Maka tidak heran jika di dalam gambar-gambar tentang Nabi Musa as mendapatkan Taurat, terlihat beliau membawa semacam lempengan batu segi empat agak besar. Itulah penggambaraan lawh. Sedangkan pada QS. al-Qamar/54: 13 disebutkan tentang kapal Nabi Nuh as yang terbuat dari papan dan kata “papan” dalam ayat tersebut disebut alwaah (jamak dari lawh). Persamaan antara lempengan pada Nabi Musa as dan Nabi Nuh as adalah pada lempengannya walaupun bisa berarti batu dan bisa pula berarti papan. 

Terakhir, ungkapan kata lawh di dalam Al-Qur’an disebutkan di dalam QS. al-Muddatstsir/74: 29 dengan kata lawwaahahyang berarti menghanguskan. Namun menurut M. Quraish Shihab, lawwaahah bisa berarti tampak atau menampakkan.[8]Mengapa lalu diartikan dengan menghanguskan dalam QS. al-Muddatstsir/74: 29? Barangkali karena konteksnya adalah tentang api neraka yang membakar. Misalnya, karena baju terbakar, maka kulit menjadi tampak atau karena kulit terbakar sehingga bagian dalam kulit menjadi tampak. Jika dihubungkan dengan kata lempengan, maka jika ada sebuah lempengan, maka bagian yang lempeng itulah yang tampak dan itulah inti dari lempengan, bukan bagian lainnya, seperti pinggirannya. Seperti sebuah kitab, maka yang penting adalah bagian lempengannya yang terdapat tulisan padanya, bukan bagian lainnya.

Adapun mahfuuzh berarti terpelihara, stabil, tetap, atau sesuatu yang tidak berubah. Di dalam bahasa Inggris, lawhmahfuuzh disebut preserved tablet atau tablet yang diawetkan. Sama saja, maksudnya adalah sesuatu yang tidak berubah. Jadi, lawh mahfuuzh adalah sebuah benda (material maupun non-material) berbentuk lempengan yang bisa dibayangkan berbentuk persegi panjang mirip kitab atau buku dengan maksud bagian paling penting darinya adalah lempengannya.  

Ketika menafsirkan lawh mahfuuzh di dalam QS. al-Buruj/85: 21-22,[9] al-Qusyayri memaknainya sebagai benda material yang terbuat dari mutiara putih dan yaqutah merah yang luasnya sebentang langit dan bumi, dan atasnya bergantung ke Arsy dan di bawahnya ada para malaikat mulia. Menurut al-Qusyayri, Al-Qur’an terpelihara di lawhmahfuuzh dan juga terpelihara di hati orang beriman, sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Ankabut/29: 49.[10]

Lawh Mahfuuzh: Sebagai Konsep 

Tersisa kini pertanyaan, dengan semua nama-nama lawh mahfuuzh, lalu apa maknanya? Apa yang hendak disampaikan oleh Al-Qur’an dengan nama-nama itu? Atau bahkan apa yang hendak disampaikan oleh Al-Qur’an dengan konsep atau istilah lawh mahfuuzh? Mengapa harus ada lawh mahfuuzh sedangkan bisa saja Al-Qur’an berasal dari Allah SWT saja tanpa harus ada lawh mahfuuzh?

Dari namanya, lawh mahfuuzh adalah semacam kitab juga—sebagaimana Al-Qur’an—karena adanya kata lawh di sana dan juga seringnya lawh mahfuuzh dinamai kitaab. Sedangkan lawh mahfuuzh dipahami sebagai asal dari segala sesuatu, termasuk asal dari Al-Qur’an dan asal dari segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta (termasuk pada manusia); semuanya telah termaktub di dalam dan merujuk kepada lawh mahfuuzh. Kata kunci “kitab” ini adalah penting karena mewarnai kehidupan umat Islam dan agama-agama lain seperti Yahudi dan Nasrani sebagai Ahlul Kitaab atau The People of Book

Katakanlah seperti ini: Al-Qur’an adalah kitab, segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta telah termaktub di dalam kitab, hidup dan mati manusia temaktub di dalam kitab, kebaikan dan keburukan manusia tertulis di dalam kitab, serta pertanggungjawaban perbuatan didapatkan di akhirat dalam bentuk tulisan dalam kitab. Karena itu, sesungguhnya seluruh alam semesta ini bisa disimpulkan dalam satu kata: KITAB. Itu karena seluruhnya berawal dari kitab dan berakhir dalam kitab.

Kesan kuat yang muncul dari sana, dari penjelasan di atas, adalah bahwa segalanya adalah sakral. Al-Qur’an sakral dan segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta juga sakral karena keduanya termaktub di dalam kitab (lawh mahfuuzh) yang penentu (untuk menghindari kata “penulis”) isi kitab itu adalah Allah SWT sendiri. Kalimat lainnya adalah bahwa baik Al-Qur’an maupun segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta adalah sama sakralnya karena berasal dari lawhmahfuuzh yang mahfuuzh (terpelihara). Dampaknya, memahami Al-Qur’an dan memahami alam semesta menghasilkan pengetahuan yang sama mulianya karena semuanya (termasuk lawh mahfuuzh) adalah representasi dari pengetahuan Allah SWT itu sendiri.

Hubungan antara lawh mahfuuzh dengan Al-Qur’an sesungguhnya adalah hubungan yang unik. Lawh mahfuuzh tidak hanya berhubungan dengan Al-Qur’an meskipun sering disebutkan bahwa Al-Qur’an berasal dari lawh mahfuuzh karena di dalam Al-Qur’an sendiri disebutkan bahwa segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta juga berhubungan dengan lawh mahfuuzh karena berasal dari lawh mahfuuzh. Lalu, apakah Al-Qur’an persis sama dengan lawh mahfuuzh?

Beberapa penafsir—termasuk M. Quraish Shihab dan Mutawalli asy-Sya’rawi—selalu menekankan lawh mahfuuzhsebagai bukti terpeliharanya Al-Qur’an dari perubahan atau dari intervensi makhluk. Namun jika kita amati, maka Al-Qur’an itu sendiri tampak sebagai “bentuk perubahan” dari lawh mahfuuzh karena sebagaimana biasanya asal, selalu tidak sama dengan hasilnya. Lagi pula, lawh mahfuuzh tidak hanya menghasilkan Al-Qur’an tetapi juga menghasilkan peristiwa dan ketentuan di alam semesta. Al-Qur’an dan peristiwa dan ketentuan di alam semesta tidak sama meskipun tidak bertentangan. Jika hendak diumpamakan, maka itu seperti Al-Qur’an dan terjemahannya. Al-Qur’an ibarat lawhmahfuuzh dan terjemahannya ibarat Al-Qur’an dan peristiwa dan ketentuan di alam semesta. Tidak bisa disebut sama meski tidak mesti disebut bertentangan.

Selain dipahami bahwa Al-Qur’an pasti terjaga karena berasal dari lawh mahfuuzh yang juga terjaga, makna Al-Qur’an berasal dari lawh mahfuuzh menjadi argumen bahwa Al-Qur’an bukan makhluk dengan alasan bahwa Al-Qur’an berasal dari “atas sana” (lawh mahfuuzh), bukan berasal dari “bawah sini”. Meski demikian, perdebatan tentang Al-Qur’an bukan makhluk belum selesai dengan argumen itu karena sebelumnya sudah disebutkan bahwa meski tidak bertentangan, Al-Qur’an dengan lawh mahfuuzh tetap berbeda. “Perbedaan” itulah menjadi celah dalam perdebatan tentang Al-Qur’an makhluk atau bukan. “Perbedaan” tersebut menegaskan bahwa meski bukan makhluk, Al-Qur’an tetap memiliki unsur kemakhlukan karena jika tidak, maka lawh mahfuuzh tidak perlu “berubah” menjadi Al-Qur’an untuk dapat dipahami oleh makhluk, cukup tetap menjadi lawh mahfuuzh saja. Kenyataannya, lawh mahfuuz “berubah” menjadi Al-Qur’an. Lalu, jika lawh mahfuuzh yang adalah asal dari Al-Qur’an itu adalah makhluk, lalu mengapa Al-Qur’an tidak?

Namun bisa dipahami jika yang dimaksud dengan Al-Qur’an bukan makhluk adalah bukan hasil kreativitas Nabi Muhammad Saw. Pembahasan ini ada dalam perdebatan internalitas dan eksternalitas wahyu. Konsep lawh mahfuuzh juga bisa berbicara di sini, yaitu sebagai bukti bahwa Al-Qur’an bukan dari Nabi Muhammad Saw, tetapi dari lawh mahfuuzh. Maksudnya, tidak intervensi internal beliau dalam Al-Qur’an. Yang ada hanyalah intervensi eksternal lawh mahfuuzh.

Problem lain yang bisa dijamah oleh konsep lawh mahfuuzh adalah tentang takdir atau bahwa semua yang telah dan akan terjadi tidak akan bisa lagi diubah.[11] Telah disebutkan bahwa lawh mahfuuzh adalah asal dari Al-Qur’an dan juga asal dari segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta. Karena itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak lagi bisa berubah, maka demikian pula segala peristiwa dan ketentuan di alam semesta tidak lagi bisa berubah. Tentu ini adalah argumen kuat bagi Jabariyyah.

Memang hampir semua ayat yang berbicara tentang lawh mahfuuzh (namun dalam nama lain selain lawh mahfuuzh) pembicaraan tentang peristiwa dan ketentuan terkesan kuat bahwa semua yang telah dan akan terjadi tidak akan bisa berubah. Salah satunya adalah QS. QS. al-Hadid/57: 22:[12] Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.[13]

Namun ada satu ayat yang juga menyebut kata lawh mahfuuzh (dengan nama lain) tapi agak berbeda nada dengan ayat di atas, yaitu QS. ar-Ra’d/13: 39:[14] Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). Pada ayat ini, disebutkan bahwa selalu ada kemungkinan perubahan atas peristiwa dan ketentuan di alam semesta. Jadi, antara ayat-ayat yang berbicara tentang peristiwa dan ketentuan alam semesta, tidak terjadi pertentangan karena bisa saja yang ada di lawh mahfuuzh memang tidak mungkin berubah oleh siapapun, tetapi oleh Allah SWT bisa saja. Pada QS. ar-Ra’d/13: 39 disebutkan Allah SWT “menghapus” yang berarti bisa menghapus yang telah ditetapkan, bukan hanya menetapkan yang belum ditetapkan.

Jika di atas dipahami bahwa ada urutan dari Allah SWT ke lawh mahfuuzh lalu ke Al-Qur’an dan peristiwa dan ketentuan alam semesta, maka dalam tradisi sufi, ada urutan agak berbeda yaitu dari Allah SWT ke pena (al-qalam dan nuun) lalu ke lawh mahfuuzh sebagaimana disebutkan di dalam QS. al-Qalam/68: 1.[15] Bagi Ibn Arabi, posisi lawh mahfuuzhseperti itu diganti dengan Nabi Muhammad Saw (atau Nur Muhammad) dengan alasan hanya Nabi Muhammad Saw yang mampu menerima inspirasi dari al-qalam dan nuun. Adapun lawh mahfuuzh dalam tradisi sufi, dipahami sebagai hati orang beriman di mana Allah SWT menampakkan diri-Nya.[16] Jadi, bagi Ibn Arabi, lawh mahfuuzh adalah Nabi Muhammad Saw.

Bagi manusia, Allah SWT adalah pencipta dan pemelihara. Karena itu, sudah menjadi konsekuensi alamiah jika manusia menyembah Allah SWT. Konsekuensi Allah SWT sebagai pencipta dan pemelihara, maka Allah SWT adalah Mahakuasa. Lalu konsekuensi dari Kemahakuasaan-Nya adalah Allah SWT Mahatahu. Segala pengetahuan Allah SWT disimbolkan dengan lawh mahfuuzh atau terrekam di dalamnya. Lalu dari Kemahatahuan-Nya itulah terlahir seluruh realitas di alam semesta ini tanpa ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya.[17]

Di dalam Kemahatahuan-Nya itulah manusia dianugerahi kebebasan. Maksudnya, kebebasan manusia berhubungan dengan Kemahatahuan Allah SWT, bukan dengan Kemahakuasaan-Nya. Dengan kebebasan itulah manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya karena tidak mungkin ada pertanggungjawaban tanpa adanya kebebasan. Setelah itu, barulah bermakna sifat Allah SWT yang Mahaadil dan Maha Menghakimi. Tanpa kebebasan manusia pula, maka tidak mungkin ada arti bagi Kemahaadilan-Nya. Lalu menyusul setelah itu Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun sebagai penutup. Tanpa Keadilan-Nya maka tidak mungkin ada Mahakasih dan Mahampun-Nya karena setiap perbuatan harus diputuskan terlebih dahulu apakah salah apakah benar lalu seandainya pun salah, maka Allah SWT adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun.[18]

Pada penjelasan di atas tampak posisi penting lawh mahfuuzh dalam konstelasi nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, yaitu sebagai simbol Kemahatahuan Allah SWT dan juga sebagai asal mula kehadiran segala sesuatu atau kehadiran alam semesta. Simbol Kemahatahuan-Nya adalah lawh mahfuuzh yang di atas telah disebutkan adalah tidak lain daripada Kitab juga. Bukankah kitab dan buku-buku adalah juga simbol ilmu pengetahuan bagi manusia? Lalu, dari Kemahatahuan-Nya itu tercipta segala sesuatu. Bukankah manusia pun mencipta dan berkarya dengan pengetahuannya yang biasanya termaktub di dalam buku-buku dan kitab-kitab? Ya, begitulah seterusnya.[19][]

Bahan Bacaan

Muqatil bin Sulaiman, Tafsiir Muqaatil bin Sulayman, Jilid 4, Beirut: Muassasah at-Tarikh al-‘Araby, 2002

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah: Kesan Pesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 14, Ciputat: Lentera Hati, 2017

al-Qusyayri, Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik, Tafsiir Al-Qusyayrii Al-Musammaa Lathaa’if al-Irsyaad, Jilid 3, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2007

Madigan, Daniel A., “Preserved Tablet”, dalam Jane Dammen McAuliffe (ed.), Encyclopaedia of the Qur’an, Jilid 4, Leiden: Brill, 2004

Nasr, Seyyed Hossein, “Tuhan”, dalam Seyyed Hossein Nasr (ed.), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Bandung: Mizan, 2002

Editor: AMN


[1] وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ (Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh).

[2] اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ (Dan Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas [Lauh Mahfuzh]).

[3] وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْكِتٰبٍ مُّبِيْنٍ (Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata [Lauh Mahfuzh]).

[4] اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ (Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia,

dalam Kitab yang terpelihara [Lauh Mahfuzh]).

[5] يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُ ۚوَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ (Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab [Lauh Mahfuzh]).

[6] مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ (Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah).

[7] Muqatil bin Sulaiman, Tafsiir Muqaatil bin Sulayman, Jilid 4, Beirut: Muassasah a-Tarikh al-‘Araby, 2002, hal. 224.

[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Kesan Pesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 14, Ciputat: Lentera Hati, 2017, hal. 490.

[9] بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ (Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lawh Mahfuuzh).

[10] Abu Al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik Al-Qusyayri, Tafsîr Al-Qusyairî Al-Musammâ Lathâ’if Al-Irsyâd, Jilid 3, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2007, hal. 280.

بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَۗ وَمَا يَجْحَدُ بِاٰيٰتِنَآ اِلَّا الظّٰلِمُوْنَ (Sebenarnya, [Al-Qur’an] itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat kami.

[11] Daniel A. Madigan, “Preserved Tablet”, dalam Jane Dammen McAuliffe (ed.), Encyclopaedia of the Qur’an, Jilid 4, Leiden: Brill, 2004, hal. 262.

[12] مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

[13] Muqatil bin Sulaiman, Tafsiir Muqaatil bin Sulayman, Jilid 4, hal. 244.

[14] يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُ ۚوَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ

[15] نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ (Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan)

[16] Daniel A. Madigan, “Preserved Tablet”, hal. 262.

[17] Seyyed Hossein Nasr, “Tuhan”, dalam Seyyed Hossein Nasr (ed.), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Bandung: Mizan, 2002, hal. 429-430.

[18] Seyyed Hossein Nasr, “Tuhan”, hal. 430.

[19] Berikut adalah ayat-ayat yang mengandung kata lawh mahfuuzh dan kata-kata yang searti dengan lawh mahfuuzh beserta arti sederhananya: al-Buruj/85: 22 (Lauh Mahfuzh = Al-Qur’an); al-Anbiya/21: 105 (Dzikir = Kitab Zabur); Yasin/36: 12 (Imamin Mubin = Takdir/Nasib Yang Ditulis Kemudian); ath-Thur/52: 2: (Kitabin Mastur = Kitab yang Tertulis);  al-An’am/6: 59: (Kitabin Mubin = Takdir/Nasib); Yunus/10: 61: (Kitabin Mubin = Al-Qur’an dan Takdir/Nasib); al-Naml/27: 75: (Kitabin Mubin = Takdir/Nasib Segalanya); Saba/34: 3: (Kitabin Mubin = Tadir/Nasib);  al-Waqiah/56: 78: (Kitabin Maknun = Al-Qur’an); ar-Ra’d/13: 39: (Ummul Kitab = Takdir/Nasib Bisa Berubah; az-Zukhruf/43: 4: (Ummul Kitab = Al-Qur’an); al-A’raf/7: 37: (Kitab = Takdir/Nasib); al-Isra/17: 58: (Kitab = Takdir/Nasib); al-Haj/22: 70: (Kitab = Ilmu Allah SWT);  Fathir/35: 11: (Kitab = Takdir/Nasib); al-Hadid/57: 22: (Kitab = Takdir/Nasib).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Alhamdulillah ana baca tuntas..Alhamdulillah dapat ilmu, untuk memahaminya bener2 harus konsentrasi😊🙏🏻👍👍Jazakallahu Khoiron Katsiron Ustadz Abdul Muid