Makna Hakiki dan Majazi dalam Hadis

Makna Hakiki dan majazi tidak hanya dibutuhkan dalam memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an saja. Namun, dalam memahami hadis juga dibutuhkan pembahasan tentang makna hakiki dan majazi.  Lalu apa yang dimaksud dengan makna hakiki dan majazi dalam hadis? Dan bagaimana contohnya?

  1. Makna hakiki

Hakiki adalah Lafaz yang dipakai menurut arti yang sebenarnya.[1] Sedangkan apabila disambung dengan kata “makna” menjadi satu kesatuan, makna hakiki berarti makna yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya sesuai dengan harfiahnya. Contoh: perkataan seorang “singa itu makan” singa disini yaitu (hewan) singa, bukan yang lain. Berbeda apabila singa yang di maksud itu adalah seorang pemberani. Maka yang demikian itu sudah bukan makna hakiki lagi melainkan makna majazi.

2. Makna majazi

Kata majaz berarti lafaz yang digunakan dalam makna yang bukan seharusnya karena adanya hubungan (alaqah) disertai qarinah (hal yang menunjukkan dan menyebabkan bahwa lafaz tertentu menghendaki pemaknaan yang tidak sebenarnya) yang menghalangi pemakaian makna hakiki. Contoh: “singa itu berpidato” dengan maksud si pemberani (yang seperti singa itu) berpidato. Hubungan yang dimaksud terkadang karena adanya keserupaan dan adapula karena factor yang lain. Sedangkan qarinah adakalanya lafziyah (terdapat dalam teks, tertulis) dan adapula haliyah (tidak tertulis, berdasarkan pemahaman saja).[2]

  • majaz dalam memahami hadis.

Sebagaimana pemaknaan Bahasa secara umum, pemaknaan hadis juga tidak lepas dari model pemaknaan secara denotative (hakiki) atau secara konotatif (majazi), pemaknaan hakiki adalah pemaknaan suatu teks Bahasa ( dalam hal ini adalah hadis ) secara sama’I, sedangkan pemaknaan majazi adalah pemaknaan yang didasarkan pada penelitian terhadap indikasi-indikasi (qarinah) yang menyertai teks hadis tersebut, pemaknaan hakiki biasanya disebut sebagai model pemaknaan tekstual, literal, harfiah, dan lahiriah. Sedangkan pemaknaan majazi merupakan model pengalihan makna dari makna hakiki kepada makna lain karena memang konteks kalimat menuntut demikian. Karena itu model pemaknaan majazi juga sering disebut sebagai pemaknaan yang kontekstual. Dalam istilah yang lebih popular pemaknaan majazi sering disebut dengan ta’wil.[3]

Jika dalam aplikasi dan prakteknya suatu hadis terdapat qarinah yang mengharuskannya untuk dimaknai secara majazi maka hadis tersebut hendaknya dipahami secara majaz dan keluar dari makna hakikatnya. Dengan kata lain pengertian keluar dari makna hakiki pada makna majazi itu apabila terdapat suatu tanda yang menghalangi penyampaian makna hakiki berdasarkan dalil naqli atau aqli.[4]

Contohnya yaitu: Sabda Rasulullah saw kepada istri-istri beliau.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ بَعْضَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْنَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّنَا أَسْرَعُ بِكَ لُحُوقًا؟ قَالَ: «أَطْوَلُكُنَّ يَدًا»، فَأَخَذُوا قَصَبَةً يَذْرَعُونَهَا، فَكَانَتْ سَوْدَةُ أَطْوَلَهُنَّ يَدًا، فَعَلِمْنَا بَعْدُ أَنَّمَا كَانَتْ طُولَ يَدِهَا الصَّدَقَةُ، وَكَانَتْ أَسْرَعَنَا لُحُوقًا بِهِ وَكَانَتْ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ                       

“Orang yang paling cepat menyusulku antara kalian adalah orang yang paling Panjang tangannya[5]

Pada mulanya para istri nabi ini memahami “Panjang tangan” itu dengan makna aslinya sesuai dengan petunjuk lafziahnya. Aisyah menceritakan bahwa para istri rasulullah saw mengukur tangan mereka masing-masing untuk mengetahui siapa yang terpanjang, sebagian riwayat lain mengatakan bahwa mereka (para istri) mengambil sebatang kayu untuk mengukur tangan mereka, siapa yang paling Panjang tangannya. Padahal maksud rasulullah saw tidak seperti itu. [6]

Dikatakan bahwa yang Panjang tangan secara fisik adalah Saudah, sedangkan yang Panjang tangan dalam arti bersedekah adalah Zainab, namun, riwayat al-Bukhari dan al-Nasa’I memberi kesan bahwa perempuan yang paling cepat wafat adalah bukan Zainab, melainkan saudah. Dalam hal ini al-hafidz Abu Ali as-Shairafi berkata“ berdasarkan teks hadis ini (maksudnya riwayat al-Bukhari), Saudah adalah perempuan yang paling cepat menyusul Nabi. Ini bertentangan dengan yang masyhur dikalangan para Ulama, karena Zainab adalah perempuan yang pertama menyusul Nabi (wafat)”. Ibnu al-Jauzi menyatakan “Dalam hadis ini terdapat kekeliruan dari sebagian para Rawi, al-Khattabi tidak mengetahui kekeliruan hadis ini. Ia menjelaskan dan berkata bahwa menyusulnya Saudah atas wafatnya Nabi saw termasuk diantara tanda-tanda kenabian. Semua ini adalah keliru. Sebab yang pertama wafat menyusul beliau adalah Zainab.” [7]

Imam Ibn Sa’d berkata: “ Muhammad bin Umar yaitu al-Waqidi mengatakan kepada kami bahwa Hadis ini disalahpahami mengenai Saudah. Padahal hadis ini mengenai Zainab bint Jahsy. Sebab beliau adalah istri Nabi saw yang paling pertama wafat menyusul Nabi saw.”[8]

Menurut Imam Ibn Baththal, hadis ini (riwayat bukhari) tidak menyebutkan nama Zainab, karena para ahli sejarah telah sepakat bahwa Zainab adalah orang yang pertama wafat dari kalangan  istri Nabi saw . hal yang sama disampaikan oleh al-Nawawi (w. 676H) bahwa para Ahli Sejarah telah melakukan consensus bahwa Zainab adalah orang yang pertama yang wafat dari kalangan istri Nabi saw. [9]

Maka dalam hadis ini jelas makna yang dimaksud adalah makna majazi (konotatif) yaitu paling banyak sedekahnya, bukan makna hakiki (denotatif) yaitu Panjang tangan secara fisik. Apabila ada yang memahami makna hadis ini secara hakiki, maka pemahaman ini tidak mengakibatkan sesat dan menyesatkan, melainkan berbeda dari apa yang dimaksud Nabi saw.[10]

Contoh hadis lain adalah:

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَاعْلَمُوا أَنَّ الجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ»

 “ Dan ketahuilah bahwa surga itu berada dibawah bayang-bayang pedang”, jika dimaknai secara hakiki maka kita akan mendapatkan pemahaman yang mustahil. Oleh karena itu muhaddisin memahami hadis tersebut secara majaz dan menyatakan bahwa yang dimaksud hadis itu adalah bahwa surga itu diraih dengan kerja keras, kesungguhan serta ketulusan layaknya perjuangan berperang menggunakan pedang melawan musuh-musuh Allah.[11]

Contoh lainnya dalam shahih bukhari yaitu

فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا»

 “Istri tercipta dari tulang rusuk suami, bila suami mencoba meluruskannya tanpa kebijaksanaan maka ia akan patah, tetapi bila ia dibiarkan maka akan tetep bengkok”.

Para ulama menangkap hadis ini sebagai kiasan, wanita sebagai ibu rumahtangga yang dikepalai oleh seorang suami pada umumnya, kebanyakannya lebih emosional dari pada sifat pria. Sifat emosional yang disimbolkan dengan tulang bengkok, meluruskannya harus dengan kesabaran dan hati-hati. Jika meluruskannya dengan jalan paksa maka akan patah dan apabila dibiarkan begitu saja maka akan tetap bengkok.  Pemahaman ini secara majazi dinilai tepat karena adanya alasan bahwa adanya pertentangan dengan pengetahuan umum bahwa penciptaan manusia (termasuk wanita) itu bukan dari tulang rusuk suami melainkan dari tanah, air mani dsb.  Pemahaman seperti ini pula mampu meredam para aktivis gender yang menurut mereka hadis ini memihak kaum laki-laki dan bias gender didalamnya.

Editor: MW


[1] Imam Akhdlori, Jauhar Maknun yang diterjemahkan oleh moch. Anwar dengan judul Ilmu Balaghah, cet.III, Bandung: PT al-Ma’arif, 1989, hal.140.  

[2] Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, al-Balaghah al-Wadhihah, Surabaya: Maktabah al-hidayah, t.t, 71. Lihat juga di ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah, Beirut: dar al-kutub al-ilmiyah, t.t, hal.231.  

[3] Ahmad Ubaydi Hasbillah, Nalar Tekstual Ahli Hadis: Akar Formula Kultur Moderat berbasis Tekstualisme, jilid I, Tangerang Selatan: Maktabah Darus-sunnah,  cet.I, 2018. Hal. 64-65.

[4] Yusuf Qaradhawi, Studi Kritis as-Sunnah, diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar, Bandung: Trigenda Karya, 1995, hal. 193.

[5] Shahih al-Bukhari, kitab az-zakah bab fadhl shadaqah, jilid II, Hal. 136, hadis ini juga dikutip dalam buku Ali musthafa Yaqub, cara benar memahami hadis, cet. III, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2019, hal.5.

[6] Fuad Abdul Baqi, al-Lu’lu Wa al-Marjan, juz III, Beirut: Dar al-Fikr, t.t, hal.155. lihat pula di al-Tahawi, al-Muskil al-Atsar, juz III, Beirut: dar al-kutub al-ilmiyah, 1995, hal. 143.  

[7] Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid V, Madinah: al-Mathba’ah al- Salafiyah. 276H, Hal.69.

[8] Muhammad bin Ahmad bin Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid V, Madinah: al-Mathba’ah al- Salafiyah. 276H, Hal.69.

[9] Sunan al-nasa’I bi syarh al-suyuti, jilid V, hal.6. dikutip oleh ali musthafa yaqub, cara benar memahami hadis, hal. 9.

[10]  Ali Musthafa Yaqub, cCara Benar Memahami Hadis, cet. III, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2019 hal. 9.

[11] Muh. Zuhri, Telaah Matan Hadis: Sebuah Tawaran Metodologis, Yogyakarta: LESFI, 2003, hal. 60. 

Mega Wati
Alumni Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut PTIQ Jakarta