Penyebutan Nama Muhammad dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebagai petunjuk bagi manusia (hudan li an-nas) al-Qur’an memuat pedoman dan pelajaran yang disajikan dengan berbagai bentuk. Di antara bentuknya adalah dengan menyampaikan pesan melalui kisah, baik kisah para nabi dan orang salih maupun tokoh dan kaum yang durhaka. Kisah para nabi disebutkan dengan porsi yang beragam. Ada yang diceritakan secara panjang lebar, sedang, singkat, atau hanya menyebutkan namanya saja. Jumlah penyebutan nama para nabi pun beragam. Nabi yang namanya paling banyak disebut adalah Nabi Musa, yaitu sebanyak 136 kali. Walaupun diturunkan kepada Nabi Muhammad, ternyata al-Qur’an justru tidak banyak menyebut nama Muhammad. Tulisan ini akan mengulas empat ayat al-Qur’an yang menyebut nama Muhammad serta makna yang terkandung di dalamnya.

Nabi Muhammad juga Wafat

Secara tartib mushafi (urutan mushaf)nama Muhammad pertama kali disebutkan dalam QS. Ali Imran [3]: 144 sebagai berikut.

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ ۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔا ۗوَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ

“(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3]: 144)

Ayat ini menegaskan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad. Disebutkan dalam Tafsir Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia) bahwa ayat ini berhubungan dengan peristiwa pada Perang Uhud. Saat itu tersebar berita bahwa Nabi Muhammad wafat terbunuh, lalu pasukan muslim yang lemah imannya meninggalkan medan perang. Di antara mereka bahkan ada yang kembali menjadi kafir dan meminta perlindungan kepada Abu Sufyan, pemimpin pasukan kafir saat itu. Orang-orang munafik menambah gaduh suasana dengan melempar opini bahwa kalau Muhammad benar seorang Nabi tentu tidak akan wafat terbunuh. Ayat ini menentramkan kaum muslim, sebab faktanya para nabi terdahulu pun telah wafat.

Penegasan Kenabian

Sebelumnya telah disebutkan ayat yang menjelaskan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad. Adapun pada QS. al-Ahzab [33]: 40 penyebutan nama Muhammad berada dalam konteks penegasan kenabian beliau. Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab [33]: 40)

Ayat ini merespons cemooh orang-orang munafik yang mempersoalkan pernikahan Rasulullah dengan Zainab. Zainab adalah janda cerai dengan Zaid bin Harisah. Zaid merupakan anak angkat Rasulullah. Orang-orang munafik mencela pernikahan tersebut karena dipandang menikahi bekas anak sendiri, padahal Zaid bukanlah anak kandung Rasulullah. Penyebutan nama Muhammad dalam ayat ini menegaskan bahwa beliau bukanlah bapak seorang anak laki-laki dari umatnya. Meski demikian, beliau memang bapak bagi kaum muslimin dari segi kehormatan dan kasih sayang. Ayat ini juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Artinya tidak ada lagi nabi setelah beliau. Orang yang mengakui ada nabi setelah Nabi Muhammad, maka bukan bagian dari umat Islam.

Mengimani Al-Qur’an yang Dibawa Nabi Muhammad

Secara spesifik nama Muhammad menjadi nama sebuah surat dalam al-Qur’an. Surat tersebut berada pada urutan ke-47 dalam tartib mushafi. Nama Muhammad disebutkan dalam ayat 2 sebagai berikut.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ

“Orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan beriman pada apa yang diturunkan kepada (Nabi) Muhammad bahwa ia merupakan kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaannya.” (QS. Muhammad [47]: 2)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini berhubungan dengan kaum Ansar di Madinah. Mereka beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kaum Ansar juga membantu kaum Muhajirin yang baru datang hijrah dari Mekah. Maksud dari “ma nuzzila ‘ala Muhammad’ dalam ayat tersebut adalah al-Qur’an. Oleh karena itu, orang mukmin harus mengimani al-Qur’an serta membumikan ajaran-ajarannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Orang mukmin yang demikian akan mendapat ridha Allah. Allah akan menerima amal mereka dan mengampuni dosa mereka, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

Karakter Umat Nabi Muhammad

Nabi Muhammad diutus kepada suluruh umat. Beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Nama Muhammad disebutkan pada penghujung Surah al-Fath diiringi dengan karakter orang-orang yang menjadi pengikutnya. Allah Swt berfirman sebagai berikut.

“Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)

Pengikut Nabi Muhammad senantiasa bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir yang menentang agama, namun berkasih sayang sesama orang beriman. Mereka menampilkan wajah yang cemerlah serta tidak menggambarkan kedengkian dan niat jahat. Keimanan mereka tampak pada budi pekerti yang halus. Semua karakteristik itu telah diwujudkan dan dicontohkan dalam diri Nabi Muhammad, karena beliau adalah uswah hasanah (suri teladan yang baik).

Demikianlah empat ayat yang menyebutkan nama Muhammad. Secara umum ayat-ayat tersebut menjelaskan sisi kemanusiaan dan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad. Beliau adalah sosok seorang nabi yang tegas pada persoalan keimanan, namun tetap menampakkan kelembutan. Inilah yang membuat beliau disegani dan dihormati oleh kawan bahkan lawan. Apabila digali lebih dalam, tentu akan didapati mutiara hikmah yang berlimpah dalam ayat-ayat tersebut.

Sumber Bacaan:

Tafsir Kemenag, diakses melalui quran.kemenag.go.id pada 19 Oktober 2021.

Hendriyan Rayhan
Mahasiswa program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta