Ulama Kreatif: Eksistensi Ulama di Era Kesempurnaan Artificial Intelligence

Disrupsi atas kehadiran AI beragam, termasuk persoalan dignity atau martabat yang menjadi ancaman eksistensi manusia (Pabubung, 2023: 67).[i] Solusi pencegahannya juga telah banyak dibicarakan. Salah satunya dalam buku yang ditulis oleh Mark Latonero yang menjelaskan upaya manusia meregulasi AI demi menjaga hak dan martabat umat manusia dengan membatasi pemberian data pada AI (Latonero: 2018: 10-24).[ii]

Namun, bagaimana apabila “kecelakaan” yang mengakibatkan kebocoran data yang berujung pada Kesempurnaan AI terjadi? Terjadilah apa yang penulis sebut sebagai Era Kesempurnaan AI. Yaitu, era di mana AI memiliki berbagai data dan informasi, termasuk data individu tiap manusia. Lalu, manusia menjadi bergantung pada AI sebagai sumber pengetahuan, bahkan jawaban, atas setiap bidang ilmu pengetahuan.

Let me explain it in another way. Jika seandainya era kesempurnaan AI terjadi pada tahun 2999, maka “pada Tahun 2999 M, AI hadir dengan semua pengetahuan yang telah ditemukan selama 2999 tahun. Manusia di tahun 2999 M akan bergantung pada AI untuk mengakses berbagai pengetahuan”.

Artinya, keilmuan umat manusia menjadi stagnan. Tidak ada perkembangan berarti yang dapat ditemukan oleh manusia yang pengetahuannya bersumber pada 2999 tahun ke belakang. Penemuan-penemuan yang ada pada tahun itu hanya berputar pada korelasi antar bidang ini ke bidang itu. Ragam perspektif dari suatu tema. Tema A dipandang dari masa lalu 1 ke masa lalu 2.

Dari realita tersebut, existensi ulama, sebagai ilmuan agama Islam, pun menjadi terancam. AI menjadi lebih berilmu. Ilmunya pun lebih kompleks ketimbang ulama, sebagai manusia dengan keterbatasannya, sehingga, konklusi yang dihasilkannya pun menjadi lebih valid dan terukur. Lalu, bagaimana upaya ulama agar tetap eksis di era tersebut terjadi?

Manusia, termasuk ulama, dan AI tidak seharusnya dipertentangkan. AI, yang berbekal pengetahuan dan ilmu dari apa yang telah ditemukan oleh manusia (Akbar, 2024: 64),[iii] harus selalu didukung oleh manusia dalam peningkatannya. Dengan sempurnanya AI, manusia menjadi lebih mudah untuk mengakses beragam informasi yang dapat membantu kehidupan manusia.

Zulfa Mustofa mengatakan “AI tidak bisa mengetahui siapa orang yang meminta hukum”. Suatu hukum bisa berubah karena banyak aspek. Orang yang haus darah ketika bertanya demi validitas nafsunya ‘apakah pembunuh diterima taubatnya?’ akan diberi jawaban yang sama oleh AI dengan pertanyaan dari seorang yang ingin betul-betul berharap taubat.[iv]

Tapi, bisakah AI diberi rumus kebijaksanaan dalam sistemnya untuk membuat hukum? Bisa. Sebagai contoh: Di China, tiap individu penduduknya telah terdata. Tidak sekedar terdata sebagai warga negara, data tersebut juga berisi track record akan pribadi orang tersebut yang kemudian memberinya Skor Sosial.

Apabila seseorang dengan track record pernah berhutang dan tidak membayarnya hingga mendapat skor sosial rendah, ia dapat dihukum dengan mempublikasi identitasnya di ruang publik. Ironisnya, contoh di atas merupakan fakta yang terjadi di Tiongkok (Latonero: 2018: 11).[v] Namun, dari fakta ironis tersebut, kita dapat meilhat bahwa, dengan track record, kita dapat mengetahui karakter, kebiasaan, bahkan psikologi seseorang.


Fakta di atas menunjukkan bahwa, pada era kesempurnaan AI, ulama tidak lagi berurusan soal konflik si A dan si B, terlebih sekedar persoalan hukum fiqh. Indentifikasi masalah dan penentuan solusi dari konflik cukup diserahkan pada AI dengan memberikan promp dan premis yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Sholahuddin Ayyubi Fakhruddin mengatakan bahwa “Ulama moderat itu tidak anti kitab terdahulu, sekaligus tidak anti kemajuan.” Tidak kiri, tidak juga kanan. tidak semena2 ‘kembali ke qur’an dan hadits’, tapi juga terbuka dengan perkembangan zaman”. Di akhir, beliau mengatakan bahwa “moderat berarti tidak stagnan.”[vi]


Dari statemen di atas, ulama di era kesempurnaan AI, di mana pengetahuan hanya berputar dalam lingkaran 2999 tahun, ditantang untuk keluar dari lingkaran tersebut. Ulama moderat tidak akan eksis karena telah tergantikan oleh AI. Ulama yang bisa tetap eksis pada era itu hanyalah “ulama kreatif”. Ulama yang keluar dari pola-pola mainstream dalam mendapatkan pengetahuan. Ulama harus kreatif, yang berfikir Out of The Box.

Al-Qur’an mengisyaratkan dalam surah Al-‘Alaq ayat 4 dan 5 bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan 2 cara. Cara pertama, Al-Qur’an mengistilahkannya dengan “bil-Qalam”. Yaitu dengan proses olah data atas informasi yang diterima oleh indra, dalam hal ini berarti “bil-AI”. Cara kedua adalah “tanpa cara”. Pengetahuan yang directly hadir dalam diri manusia.

Pernah dengar kata “EUREKA!”? Kata itu terkenal dari kisah Archimedes yang meneriakkan kata “eureka” setelah mengetahui bahwa berat air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima tubuhnya. Hal tersebut ia sadari ketika permukaan air naik ketika dirinya masuk dalam bak mandinya. Hal serupa juga pernah dialami oleh Isaac Newton yang mendapatkan pengetahuan saat melihat sebuah apel jatuh. (Lehrer, 2008:40).[vii]


Dari fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak semua pengetahuan adalah hasil dari akal atau panca indra, tapi juga bisa hadir karena kepekaan seseorang atas fenomena-fenomena di sekitarnya.

Kepekaan adalah kunci bagi para ulama untuk dapat kreatif dan keluar dari lingkaran-pengetahuan-AI. Dari sekian banyak orang yang mandi, bahkan berkali-kali tiap hari, dan sekian banyak orang melihat apel jatuh, hanya kedua orang tersebut yang dapat menangkap pelajaran dari pengalamannya.

Dalam filsafat, Henri Bergson menyebutnya Intuisi (Bergson, 1911: 809).[viii] Lebih lanjut, Haryanto menjelaskan bagaimana intuisi Bergson bekerja. Ia berkata bahwa intuisi yang hadir merupakan konklusi dari premis-premis acak yang telah terkumpul dalam alam bawah sadar seseorang yang kemudian terpantik oleh realita berkat kepekaan atas realita (Joko, 2001: V).[ix]

Ulama yang dapat eksis hanyalah ulama yang memiliki kepekaan. Kumpulan premis acak yang tersimpan di bawah sadar, sekalipun telah dihadapkan dengan realita pemantik, tidak akan dapat menghasilkan intuisi.

Dalam Al-Qur’an, ulama disebutkan dengan beragam term, yang paling populer tentu saja kata “’ulama” itu sendiri. Term ini muncul 2 kali, yaitu dalam surah Al-Syu’ara ayat 197 dan Fathir ayat 28. Secara bahasa, ulama merupakan bentuk plural dari kata ‘alim yang berarti ilmuwan. Dalam konteks di Indonesia, ulama sering digunakan untuk ilmuwan spesialis agama Islam.

Di penyebutan kata “ulama” yang kedua, yakni pada surah Fathir ayat 28, Al-Qur’an menyaratkan adanya rasa “khasyyah” kepada Allah untuk menjadi ulama. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib menerangkan bahwah “khasyyah” adalah perpaduan antara “khauf” dan “raja’” atau antara rasa takut dan harap (Al-Razi, 2024: 236).[x] Dengan adanya khauf dan raja’, seorang ulama akan menjadi ulama yang memiliki kedekatan batin dengan Allah, Sang Pemilik Ilmu.

Term lain selanjutnya ada “Rabbaniy”. Kata ini muncul sebanyak 3 kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada surah Ali Imran ayat 79, Al-Maidah ayat 44 dan 63. Untuk menjadi kreatif, ulama harus memiliki salah satu sifat ketuhanan, yaitu Rabb (pendamping).

Untuk menjadi Rabbaniy, Al-Qur’an mengisyaratkan ke-istiqamah-an belajar dan mengajar. Syarat tersebut disebutkan pada surah Ali Imran ayat 79:

…كُونُوا۟ رَبَّـٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَـٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ ٧٩

“Jadilah Rabbaniyyun, dengan mengajar dan belajar!”

Al-Alusi dalam kitab tafsirnya, Ruh al-Ma’ani Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa al-Sab’i Matsani, menekankan pentingnya mengamalkan ilmu dan al-istimrar, atau istiqamah, dalam belajar-mengajar. (Al-Alusi, 1994: 208).[xi]

Term lain yang digunakan Al-Qur’an adalah “ahl-dzikr”. Al-Biqa’i dalam kitabnya mengatakan bahwa “al-Dzikr” adalah lawan kata “al-Sahwi” (Al-Biqa’I, 2008: 167).[xii] Senada dengan Al-Biqa’i, Nasaruddin Umar berpendapat bahwa “ahl-dzikr” adalah orang yang senantiasa mengingat Tuhan sekaligus “ahli-ngeh” atau“orang yang sadar”.[xiii] Tentu sadar di sini adalah sadar atas realita yang menjadi pemantik intuisi kreatif.

Dengan demikian, untuk tetap eksis di era kesempurnaan AI, ulama harus kreatif. Ulama yang senantiasa menjaga hubungan kedekatan dengan Tuhan. Proses pendekatan tersebut dengan cara berbagi ilmu yang telah Allah berikan kepada orang lain, senantiasa berdzikir dan ngeh, serta dengan hubungan batin melalui rasa khasyyah kepada Allah.

Semua upaya pendekatan terebut dimaksudkan untuk memantaskan diri agar dapat menerima ilmu dari Allah. Dengan dekat dengan Allah, ulama tersebut berpotensi diberikan pengetahuan yang out of the box yang tidak pernah ditemukan 2999 tahun kebelakang.

Maka, pada tahun 3000 M, pengetahuan baru diperkenalkan. Ulama telah keluar dari perputaran data dari manusia ke AI, AI ke Manusia. Ulama telah mendapatkan pengetahuan baru yang berasal dari Yang Tidak Terbatas, Sang Abadi, Sang Kekal. Tuhan, Allah SWT.

REFERENSI

Akbar, Indra Padillah dan Asep Sarifudin, “Legalitas Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Sebagai Subjek Hukum Pemegang Hak Paten”, NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol 11, No 1: 2024

Al-Alusi, Mahmud, “Ruh al-Ma’ani Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa al-Sab’i Matsani”, Dar al-Kutub, Libanon: 1994

Al-Biqa’i, “Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar”, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: 2006

Al-Razi, Fakhruddin, “Mafatih al-Ghaib”, Juz 26, Maktabah Shameela Online. https://shamela.ws/book/23635/4639#p5 Diakses pada tanggal 13 Februari 2024

Bergson, Henri, “L’intuition philosophique”, REVUE DE METAPHYSIQUE ET DE MORAlLE: 1911

Fakhruddin, Sholahuddin Ayyubi, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024

Haryanto, Joko Tri, “Intelektualisme Tasawuf, Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali”, Semarang: Lambkota: 2001

Lehrer, Jonah, “Annals of Science The Eureka Hunt: Why do Good Ideas Come to Us When They Do?”, THE NEW YORKER, July 28: 2008

Mark Latonero, “Governing Artificial Intelligence: Upholding Human Right & Dignity”, DATA & SOCIETY: 2018

Mark Latonero, “Governing Artificial Intelligence: Upholding Human Right & Dignity”, DATA & SOCIETY: 2018

Mustofa, Zulfa, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024

Pabubung, Michael Reskiantio, “Era Kecerdasan Buatan dan Dampak terhadap Martabat Manusia dalam Kajian Etis”, Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 6, No 1: 2023

Umar, Nasaruddin, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024


[i]Michael Reskiantio Pabubung, “Era Kecerdasan Buatan dan Dampak terhadap Martabat Manusia dalam Kajian Etis”, Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 6, No 1: 2023

[ii]Mark Latonero, “Governing Artificial Intelligence: Upholding Human Right & Dignity”, DATA & SOCIETY: 2018

[iii] Indra Padillah Akbar dan Asep Sarifudin, “Legalitas Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Sebagai Subjek Hukum Pemegang Hak Paten”, NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Vol 11, No 1: 2024

[iv] Zulfa Mustofa, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024

[v]Mark Latonero, “Governing Artificial Intelligence: Upholding Human Right & Dignity”, DATA & SOCIETY: 2018

[vi] Sholahuddin Ayyubi Fakhruddin, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024

[vii] Jonah Lehrer, “Annals of Science The Eureka Hunt: Why do Good Ideas Come to Us When They Do?”, THE NEW YORKER, July 28: 2008

[viii] Henri Bergson, “L’intuition philosophique”, REVUE DE METAPHYSIQUE ET DE MORAlLE: 1911

[ix] Joko Tri Haryanto, “Intelektualisme Tasawuf, Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali”, Semarang: Lambkota: 2001

[x] Fakhruddin Al-Razi, “Mafatih al-Ghaib”, Juz 26, Maktabah Shameela Online. https://shamela.ws/book/23635/4639#p5 Diakses pada tanggal 13 Februari 2024

[xi] Mahmud Al-Alusi, “Ruh al-Ma’ani Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa al-Sab’i Matsani”, Dar al-Kutub, Libanon: 1994

[xii] Al-Biqa’i, “Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar”, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: 2006

[xiii] Nasaruddin Umar, Kuliah Umum PKU-MI dengan tema “Mencetak Ulama Global dan Moderat di Era Artificial Intelegence”, diadakan di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, 5 Februari 2024

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *