Dalam khazanah keilmuan Islam di Nusantara, warisan tafsir lokal memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan-pesan al-Quran dalam konteks budaya setempat. Salah satu karya tafsir yang layak mendapatkan perhatian khusus adalah Al-Qaul Al-Bayan fi Tafsir al-Quran karya Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (1871–1970), seorang ulama besar dari Minangkabau. Meskipun karya ini penting sebagai bagian dari tafsir Nusantara, namun belum banyak penelitian yang secara spesifik mengkaji konsep teologisnya, terutama tauhid, dari perspektif teologi Asy’ariyah. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Ar-Rasuli menafsirkan ayat-ayat teologis.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih terfokus dan mendalam, penulis membatasi ruang lingkup analisis artikel ini pada sejumlah surah dalam juz ‘amma, yaitu An-Naba (78:37), An-Nazi’at (79:27–30), Al-A’la (87:1–3), Al-Fajr (89:14), Al-Lail (92:12–13), dan Al-Ikhlas (112:1–4). Pemilihan ayat-ayat ini didasarkan pada relevansinya dalam menjelaskan aspek-aspek utama tauhid, seperti keesaan Allah, sifat-sifat ilahi, kehendak-Nya yang mutlak, serta hubungan antara Tuhan dan makhluk. Dengan itu, diharapkan karya ini mampu menyingkap bagaimana tafsir Al-Qaul Al-Bayan memformulasikan konsep ketuhanan dalam bingkai teologi Asy’ariyah secara kontekstual dan tekstual.
Biografi Singkat Syekh Sulaiman Ar-Rasuli
Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (1871-1970) adalah ulama besar dari Sumatera Barat yang dikenal sebagai pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, sebuah pesantren modern dengan jenjang pendidikan lengkap (Aidil, 2023). Putra dari seorang guru ngaji bernama Angku Mudo Muhammad Rasul ini, menimba ilmu dari berbagai ulama di Minangkabau sebelum akhirnya berhaji dan belajar di Mekah pada tahun 1903 (Kosim, 2015). Sekembalinya ke tanah air, selain berfokus pada pendidikan, Ar-Rasuli juga aktif dalam organisasi seperti SI Canduang-Baso, mendirikan VIOS, dan menjadi tokoh utama PERTI. Dalam hal akidah, ia berpegang teguh pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah bermazhab Syafi’i dan kemudian mengikuti tarekat Naqsyabandiyah. Ia wafat pada usia 99 tahun dan meninggalkan warisan intelektual serta spiritual yang besar, khususnya bagi umat Islam di Minangkabau (Aidil, 2023).
Latar Belakang Penulisan Tafsir Al-Qawlu Al-Bayan fi At-Tafsir Al-Quran
Kitab tafsir karya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli berjudul Risalah Al-Qawlu Al-Bayan fi At-Tafsir Al-Quran ditulis dalam bahasa Arab pegon dengan terjemahan Melayu-Minang. Awalnya, ia ragu untuk menafsirkan Al-Quran dalam bahasa daerah karena meyakini bahwa memahami makna ayat memerlukan penguasaan bahasa Arab yang mendalam (Tafsir Ar-Rasuli, hal.1). Namun, perubahan tulisan akibat pengaruh Belanda yang mempopulerkan aksara Roman (Izzul Fahmi, 2017), serta semangat kebangsaan setelah Sumpah Pemuda tahun 1928, mendorongnya untuk menyusun tafsir ini demi membantu masyarakat memahami Al-Quran dan meningkatkan kekhusyukan dalam salat (Tafsir Ar-Rasuli, hal. 1). Kitab ini menafsirkan surah-surah dalam juz 30 serta Al-Fatihah, karena surah-surah tersebut sering dibaca dalam salat, menjadikannya panduan penting bagi masyarakat Minangkabau dalam memahami ayat-ayat Al-Quran (Akbar, dkk, t.t).
Metode, Sistematika Penafsiran, dan Sumber Tafsir Al-Qawlu Al-Bayan fi At-Tafsir Al-Quran
Tafsir Al-Qawlu Al-Bayan karya Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli menggunakan metode ijmali (ringkas) dengan corak al-Adabi al-Ijtima’i dan fiqhi, yang mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan kehidupan sosial, budaya Minangkabau, dan hukum Islam. Ditulis dalam aksara Arab dengan bahasa Melayu-Minang, tafsir ini bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, serta menggunakan akal dan pengalaman alam dalam batas ijtihad ulama. Menariknya, Ar-Rasuli juga memasukkan kearifan lokal, seperti mengaitkan perlakuan terhadap anak yatim dengan budaya Minang, yang mencerminkan prinsip “alam takambang jadi guru” dan menunjukkan keharmonisan antara Islam, budaya, dan lingkungan.
Analisis Ayat-ayat Monoteis dalam Tafsir Al-Qawlu Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran Sesuai dengan Fokus Bahasan
Surah An-Naba (78:37)
Artinya: Bermula Tuhan langit dan Tuhan bumi dan yang ada di antara keduanya ialah Rahman. Artinya, Tuhan yang Pengasih tidak memiliki mereka itu dari pada Allah akan berkhithab. Artinya, tidak kuasa mereka itu bahwa akan berkata-kata. Mereka itu dengan Tuhan Allah melainkan kemudian dapat izin dari pada-Nya (hal. 15).
Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli pada ayat ini menekankan ketundukan mutlak makhluk kepada Allah. Hal ini sejalan dengan teologi Asy’ariyah, di mana Allah memiliki kehendak dan kekuasaan penuh atas segalanya. Konsep kasb dalam Asy’ariyah menjelaskan bahwa manusia “mengakuisisi” tindakannya, tetapi penciptaan dan izin untuk tindakan tersebut sepenuhnya berasal dari Allah (Mulyano, Bashori, 2010).
An-Nazi’at (79: 27-30)
Artinya adalah bermula kamu yang lebih sangat kejadian atau langitkah yang membikin akan dia oleh Allah Ta’ala? Ayat ini cerca atas kafir Makkah mengingkari akan berbangkit. Maka dicerca oleh Allah Ta’ala dengan kata-Nya manakah yang lebih sangat kejadian langit kemudian menyatakan Allah akan kejadian langit berkata Allah. Artinya meninggikan Allah akan tebal langit maka menyamakan Allah akan dia dengan tidak aib dan cacatnya (hal. 23).
Dalam teologi Asy’ariyah, penciptaan alam semesta oleh Allah dipahami sebagai manifestasi kekuasaan-Nya dalam enam tahapan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Fakhruddin al-Razi (1981). Proses ini menegaskan bahwa penciptaan berasal dari ketiadaan (creatio ex nihilo) dan sepenuhnya atas kehendak Allah (Sirajuddin Zar, t.t). Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Ar-Rasuli yang memperkuat keyakinan akan kekuasaan absolut Allah dan keterbatasan akal manusia dalam memahami hakikat penciptaan.
Al-A’la (87:1-3)
Sucikan oleh engkau akan nama Tuhan engkau daripada yang tidak patut dengan Dia Yang Tinggi Tuhan daripada serupa dengan makhluk. Orang yang menjadikan Tuhan kemudian menyamakan Tuhan akan makhluk-Nya sekira-kira sesuai segala anggota daripada tidak lebih kurang. Dan orang mentakdirkan Tuhan akan apa yang dikendaki-Nya kemudian menunjuki Tuhan kepadanya yang mentakdirkan ia daripada kebaikan dan kejahatan-Menyatakana Tuhan akan jalan kebaikan dan kejahatan (hal. 61).
Dalam analisis konsep monoteis, Ar-Rasuli menegaskan keesaan Allah yang mutlak melalui prinsip Tanzih, yaitu penyucian-Nya dari segala sifat makhluk. Pandangan ini sejalan dengan akidah Asy’ariyah yang menolak penyerupaan Allah dengan makhluk, sebagaimana tertera dalam QS Asy-Syura: 11. Selain itu, Ar-Rasuli juga membahas takdir dengan mengharmonisasikan kekuasaan absolut Allah (Qadha dan Qadar) dengan tanggung jawab moral dan kehendak bebas manusia (ikhtiar), sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Kahfi: 29 (Abdul Aziz, 2025).
Al-Fajr (89:14)
Bahwasanya Tuhan engkau sungguhnya mengintai segala amalan hamba rakyat maka tidak lewat suatu juapun melainkan mengetahui Allah Ta’ala kemudian membalas Allah Ta’ala akan punya amal dengan betulnya amalan masing-masing (hal. 70).
Berdasarkan teologi Asy’ariyah, penafsiran Ar-Rasuli mencerminkan tiga prinsip utama. Pertama, ilmu Allah bersifat azali, mencakup segala perbuatan manusia, bahkan yang belum terjadi (Ibnu Ramli, 2025). Kedua, ia mengisyaratkan doktrin kasb (usaha), di mana manusia bertanggung jawab atas perbuatannya meskipun semua itu berada dalam kehendak Allah (Nasution, 1986). Ketiga, penekanan pada pembalasan amal yang adil sejalan dengan pandangan Asy’ariyah bahwa keadilan Allah adalah kehendak mutlak-Nya dan tidak dapat diukur dengan standar manusia (Al-Syahrastani, 1979).
Al-Lail (92:12-13)
Bahwasanya atas sungguhnya menunjuki yakni atas Kami menyatakan jalan pertunjuk supaya diikuti orang dan menyatakan jalan sesat supaya dijauhi oleh orang. Dan bahwasanya bagi Kami akhirat dan dunia. Maka siapa menentukan keduanya atau salah satu kedua dari pada lain Kami niscaya sia-sia iya – Tidak mendapat (hal. 82).
Dalam perspektif teologi Asy’ariyah, penafsiran Ar-Rasuli terhadap ayat tersebut mencerminkan tiga prinsip utama. Pertama, hidayah adalah hak mutlak Allah (Nurdin, 2023), di mana manusia hanya memiliki pilihan untuk mengikutinya atau tidak. Kedua, konsep kasb menegaskan bahwa manusia bertanggung jawab atas pilihannya, meskipun semua perbuatan berada dalam kehendak Allah (Shihab, 2006). Ketiga, dunia dan akhirat sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah, sehingga keduanya harus dikejar secara seimbang dalam bingkai keimanan.
Al-Ikhlas (112: 1-4)
Ar-Rasuli mencatat sebab turunnya surah ini, yaitu: Tatkala berkata orang musyrik bagi Nabi Saw., “Bangsakan oleh engkau bagi kami akan Tuhan engkau.” Maka menurunkan Allah Ta’ala akan kata-Nya:
Artinya katakan oleh engkau ya Muhammad iya-Nya pekerjaan bermula Allah seorang [1] Telah tidak beranak dan tidak diperanakkan orang Allah Ta’ala dan tidak bagi-Nya yang menyamai oleh seorang juga dan adalah orang musyrik Arab mengatakan bahwasanya Malaikat anak betina Allah Ta’ala – dan mengata Yahudi bahwasanya ‘Uzair anak jantan Allah dan mengata Nashara bahwasanya Isa bin Maryam anak jantan Allah Ta’ala maka menolak Allah Ta’ala tiga perkataan dengan katanya -lam yalid- lalu kepada akhir surah. Wallahu a’alam (hal. 123).
Penafsiran Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dalam Tafsir Al-Qaul Al-Bayan selaras dengan teologi Asy’ariyah (Aditoni, 2023), yang menolak penyerupaan Allah dengan makhluk (antropomorfisme) dan menetapkan sifat-sifat-Nya sesuai keagungan-Nya (Khumaedi, 2025). Asy’ariyah menyeimbangkan akal dan wahyu dalam memahami sifat Allah. Berdasarkan analisis, tafsir Ar-Rasuli konsisten dengan Asy’ariyah, terutama dalam menekankan tauhid, menolak antropomorfisme, serta pandangannya tentang kehendak, kekuasaan mutlak Allah, konsep kasb, dan keadilan Tuhan yang tidak selalu sejalan dengan logika manusia. Tafsirnya bercorak tradisionalis-tekstual dengan bahasa Melayu klasik yang membutuhkan penyederhanaan untuk pembaca modern.
Referensi
Abdul Aziz, Takdir dan Usaha Manusia Menurut Imam Abul Hasan al-Asy’ari, https://bincangsyariah.com/kolom/takdir-dan-usaha-manusia-menurut-imam-abul-hasan-al-asyari/, diakses pada 25 Februari 2025.
Agus Aditoni, Antropomorfisme dalam Teologi Islam, ICONITIES (International Conference on Islamic Civilization and Humanities) Faculty of Adab and Humanities, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia July 27th, 2023, hal. 4.
Aidil, Skripsi: Naskah Tafsir Al-Qawl Al-Bayan Karya Syeikh Sulaiman Arrasuli, (Kajian Filologi Surat Al-Mu‘Awwidhatain), Uin Sunan Ampel Surabaya, 2023, hal. 48.
Aidil, Skripsi: Naskah Tafsir Al-Qawl Al-Bayan Karya Syeikh Sulaiman Arrasuli, (Kajian Filologi Surat Al-Mu‘Awwidhatain), Uin Sunan Ampel Surabaya, 2023, hal. 51.
Akbar dkk., “Revealing the Methods and Commentary Features of Al-Qaulul Bayan Fi Tafsir Al- Qur’Ān By Syekh Sulaiman Ar-Rasuli”, hal. 20-21.
Al-Syahrastani, Muhammad Ibn ‘Abd Karim, Al-Milal wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, 1979, hal. 101.
Avika Afdiana Khumaedi, Asy’ariyah: Teologi Moderat tentang Sifat Allah SWT, https://jateng.nu.or.id/keislaman/asy-ariyah-teologi-moderat-tentang-sifat-allah-swt-RbZ0N?utm_source=chatgpt.com diakses pada 24 Februari 2025.
Dr. Fauziah Nurdin, MA., Hidayah Menurut Al-Qur’an Dan Konteks Pemahaman Aliran Kalam, Penerbit Pena, 2023, hal. 57.
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI Press, Jakarta, 1986, hal. 106.
Izzul Fahmi, “Lokalitas Tafsir Di Indonesia: Studi Tentang Corak Kebudayaan Dalam Kitab Tafsir al-Ibriz” (Tesis–UIN Sunan Ampel Surabaya, 2017), 4: Putra, “Tafsir AlQuran Minangkabau Epistemologi, Lokalitas dan Dialektika, hal. 170.”
Muhammad al-Razi Fakhruddin ibn Dhiya’uddin Umar, Tafsir al-Fakhr al-Razi, (Lebanon: Darul Fikr, 1981), jilid 14, hal. 105.
Muhammad Ibnu Ramli, Apa itu Azali, https://annajahsidogiri.id/apa-itu-azali/, diakses pada 25 Februari 2025.
Muhammad Kosim, “Syekh Sulaiman Arrasuli: Tokoh Pendidikan Islam Bercorak Kultural,” Jurnal Turast, vol. 3, no. 1 (2015), hal. 24.
Mulyano, Bashori, Studi Ilmu Tauhid/Kalam, IPUSNAS, 2010, hal. 186.
Shihab, M. Quraish et.al (Ed.). (2007). Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosakata (Jakarta: Lentera Hati, bisa juga dilihat di dalam Al Syahrastani, Abi Al-Fath Muhammad bin ‘Abd Al-Karim. (2006).
Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan al-Quran, (Jakarta: Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, t.t), hal. 1-3.
Sulaiman Arrasuli, Al-Qawl Al-Bayan, fi Tafsiri Al-Quran, t.t, hal. 1.





