Integrasi-interkoneksi membuka ruang bagi kajian mengenai keislaman menggunakan pendekatan-pendekatan dari ilmu sosial-humaniora. sejumlah metodologi yang digunakan dalam ilmu sosial-humaniora berasal dari Barat, kemudian diadaptasi dan dimodifikasi untuk mengembangkan sejumlah kajian dalam studi Islam, termasuk al-Qur’an. (Fadhli Lukman, 2015: 208)
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam kajian keislaman dapat diterapkan pada teks Al-Qur’an, yaitu dalam bentuk teoritis interpretatif bidang lingustik adalah pendekatan semiotika. Dalam perkembangannya, semiotik dijadikan sebagai alat untuk memahami Al-Qur’an, karena Al-Qur’an berisi dengan tanda-tanda dan simbol-simbol kebahasaan, sehingga untuk bisa mendapatkan meaning dan significance sistem tanda yang ada di dalam Al-Qur’an harus mengkajinya dengan menerapkan pendekatan yang sesuai.
Pengertian dan Sejarah Semiotika
Teori semiotik adalah teori yang menganggap fenomena sosial dan budaya sebagai tanda. Semiotik juga teori yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang tanda tersebut memungkinkan memiliki makna. (Rina Ratih, 2016: 1)
Semiotika berasal dari istilah Yunani yaitu semion yang memiliki arti “tanda”, sedangkan seme berarti penafsiran tanda. Saussure menggunakan istilah semiologi, yaitu ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem lambang dan proses perlambangan. (Asep Ahmad, 2014: 130)
Semiotika merupakan ilmu tanda berupa metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah perangkat yang dipakai dalam upaya mencari jalan di dunia, di tengah-tengah manusia dan bersama manusia. Menurut Barthes istilah tanda memiliki prinsip untuk mempelajari kemanusiaan (humanity), juga dalam memaknai sesuatu. (Kaelan, 2009: 163) Semiotika sebagai ilmu tanda membagi aspek tanda menjadi petanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda merupakan bentuk formal yang menandai, petanda dipahami sebagai sesuatu yang ditandai oleh penanda.
Jauh sebelum abad pertengahan para tokoh filsafat Yunani telah membahas mengenai fungsi tanda. Pada abad pertengahan penggunaan tanda semakin banyak disinggung oleh para filsuf. Pada masa ini penggunaan tanda lebih menonjol tentang tanda bahasa. Istilah semiotika baru digunakan pada abad 18 oleh Lambert, seorang filsuf dari Jerman. Pada abad 20 barulah para filsuf ramai membahas semiotika secara sistematis. (Kaelan, 2009:163)
Pada abad 20 ini terdapat tokoh terkemuka yang telah membahas mengenai semiotika secara khusus. Di antaranya yaitu Roland Barthes, dalam bukunya yang berjudul Elements de Semiologi, J. Kristeva dalam Semiotica, dan masih banyak lagi. Dari beberapa tokoh terkemuka tersebut, yang disebut sebagai tokoh utama semiotika modern adalah Ferdinan de Saussure dan Charles Sanders Peirce. (Asep Ahmad, 2014: 131)
Menurut Peirce, semiotika didasarkan pada logika, dikarenakan logika mempelajari bagaimana seorang bernalar, sedangkan penalaran dilakukan melalui tanda-tanda. Peirce membagi faktor yang menentukan adanya tanda menjadi tiga faktor yaitu: tanda itu sendiri, hal yang ditandai, dan tanda baru yang terdapat dalam batin si penerima tanda. Sedangkan Ferdinan de Saussure menjadikan linguistik sebagai landasan teori. Saussure menganggap bahwa bahasa sebagai sistem tanda. (Kaelan, 2009: 166)
Dasar-dasar semiotika Islam yang dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce yaitu dalam konsep dilalah, yaitu sesuatu yang dapat membangkitkan adanya petunjuk, dan apa yang di tunjuk disebut madlūl. Dilālah dalam ilmu Mantiq didefinisikan sebagai sesuatu yang memberikan pengertian tentang sesuatu yang lain, bisa dimengerti atau tidak bisa dimengerti. Sesuatu yang memberikan pengertian disebut dāl, sedangkan yang lain disebut madlūl. Dalam konsep Charles Sanders Peirce, dāl sama artinya dengan tanda.
Relevansi Semiotika terhadap kajian Islam
Semiotika sebagai ilmu tentang tanda, dapat diterapkan pada kajian teks keagamaan. Hal ini didasarkan pada: pertama, agama sering digambarkan sebagai tanda Allah; kedua, teks-teks kitab suci agama; ketiga, teks-teks kitab suci pada umumnya dianggap sebagai himpunan tanda yang menyampaikan pesan atau amanat Ilahi; keempat, kajian mengenai agama dapat dianalisis sebagai himpunan tanda. (Khusnul Khotimah, 2008: 20)
Dalam agama Islam, semiotika dapat diterapkan dalam al-Qur’an. Kata ayat (ayah) terdapat ratusan kali dalam al-Qur’an, yang memiliki arti dasar adalah “tanda”. Kata “tanda” dalam al-Qur’an juga berkonotasi “bukti”, dan dapat pula bermakna “contoh”. Misalnya dalam QS. Hud: 103.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).
Pengalaman agama adalah “pertemuan” yang bersifat “konatif”, yaitu pengalaman yang kita alami secara langsung dan murni. Dalam pengalaman ini, fenomenologi bahasa akan menyebutnya bersifat langsung, murni, dan terjadi pada taraf tidak sadar. Ketika mulai menyadari dan mulai berbicara mengenai pengalaman tersebut, masuklah pada aspek “konatif” kepada “bahasa yang bersifat reflektif,” yaitu pengalaman yang sudah diabstraksikan ke dalam pola-pola data indrawi (sense data). Fenomena dan problem inilah kemudian membawa kepada pendekatan semiotik dalam mengungkap pengalaman agama. (Khusnul Khotimah, 2008: 20)
Secara umum kajian semiotika dari berbagai tokoh semiotik memiliki alur pemikiran sendiri-sendiri dan paradigma dalam menganalisis suatu bahasa. al-Qur’an merupakan ekspresi ketuhanan yang transhistoris, jika terekspresikan dalam bahasa manusia (bahasa Arab), maka al-Qur’an menjadi histroris. Dengan demikian, pendekatan semiotika dalam kajian al-Qur’an dapat dipergunakan jika al-Qur’an dipandang sebagi teks historis sehingga harus tunduk terhadap kebahasaan Al-Qur’an. (Nurmala Husnaini, 2021: 281)
Referensi
Fadhli Lukman, “Pendekatan Semiotika dan penerapannya dalam Teori Asma’ Al-Qur’an”, Jurnal Religia, No. 2 (Oktober, 2015), 208.
Rina Ratih, Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterre (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), 1.
Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa (Bandung: Rosda, 2014), 130.
Kaelan, Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika (Yogyakarta: Paradigma, 2009), 163.
Khusnul Khotimah, “Semiotika: Sebuah pendekatan dalam Studi Agama” , Jurnal Agama dan Komunikasi, No. 2 (Juli-Desember, 2008),
Nurmala Husnaini, “Semiotika sebagai Teori Baru dalam Penafsiran Al-Qur’an”, Jurnal kajain dan Pendidikan Keislaman, No.2 (Desember 2021), 281.





