Qur’anologi Ibn Taimiyah [Series 1]: Dikotomi Ḥaqīqah—Majāz [Bagian I]

Sebuah Pengantar

Ibn Taimiyah telah menjadi salah satu public figure di kancah studi Islam dewasa ini. Layaknya seorang artis, investigasi terhadapnya sering kali peyoratif (Suleiman & El-Tobgui, 2024, p. 1). Asesmen negatif datang dan bermula seiring mengudaranya fenomena Islamophobic yang turut serta menyeret namanya sebagai tokoh kunci di balik tragedi-tragedi yang menyebabkan Islam mendapat status barunya, “agama teroris” (Rapoport & Ahmed, 2010, p. 3).

Bacaan Lainnya

Pemikirannya dianggap menjadi fondasi bagi lahirnya cara pandang keagamaan yang tidak sadar sejarah [ahistoris]—termasuk ketika membaca teks agama [literalis], menginginkan perubahan mendasar [radikal], dan menyeru pada transformasi tatanan sosial yang membayangkan masa lalu sebagai idealitas yang harus diwujudkan kembali saat ini [romantis] (Azra, 2017, p. 20; Benjamin & Simon, 2002). Para sarjana, umumnya, mengistilahkan gejala paradigmatik di atas dengan “radikalisme agama” (Esposito & Kalın, 2011).

Tidak banyak yang berhasil memotret Ibn Taimiyah dengan gambar yang berbeda selama beberapa dekade ini (Suleiman & El-Tobgui, 2024), selain mengulang dan bahkan, menjadikannya sebagai pijakan penting yang harus diinjak untuk meneguhkan suatu tujuan “politis” tertentu. Katakanlah gerakan moderasi beragama menjadi salah satu bentuk konkret dari tujuan “politis” itu dalam konteks partikular yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah tinjauannya (Lien Iffah mengulasnya dengan sangat bagus dalam tulisannya di sini: Fina, 2024).

Barangkali ribuan atau puluhan ribu naskah akademik telah lahir bersamaan dengan moderasi beragama menempati arus utama wacana studi Islam di Indonesia yang turut berkontribusi memperkuat posisi Ibn Taimiyah sebagai aktor antagonis dalam diskusi ini. Seakan namanya memang harus dikorbankan untuk membersihkan citra Islam akibat ulah penganutnya yang dikatakan terinspirasi dari dirinya. Ibn Taimiyah “lagi-lagi” dipersekusi (Little, 1973).

Beruntungnya, beberapa sarjana mulai mempertanyakan gambar Ibn Taimiyah yang populer hari ini maupun menjadi tertarik, akibat popularitasnya, untuk memberikan perhatian yang intens pada fragmen-fragmen pemikirannya (Hallaq, 1993; Ibn Taimiya, 1976, 1976; Rapoport & Ahmed, 2010; Sharif El-Tobgui, 2020).

Sebagai salah satu cendekiawan Islam abad pertengahan yang prolifik dan dinilai sangat berpengaruh di dunia Islam modern—sekali tiga uang dengan asesmen negatif terhadapnya, membaca Ibn Taimiyah memang membutuhkan keseriusan dan kejernihan. Serius membuka setiap lembar produk intelektualnya dan jernih menempatkannya pada konteks kesejarahannya tanpa mengikutsertakan penilaian ideologis sebelum mengkajinya.

Esai serial ini, akan menjadi jembatan bagi pembaca untuk mengakses korpus utama yang telah berhasil memberikan informasi penting terhadap sejarah pemikiran Ibn Taimiyah secara serius dan jernih. Secara spesifik, dalam ranah upaya saya membangun kepakaran di bidang tafsir klasik-pertengahan, serial ini akan mengulas pemikiran Ibn Taimiyah yang secara langsung berhubungan dengan aktivitasnya memahami al-Qur’an melalui dua rujukan utama yaitu monograf Farid Suleiman, seorang sarjana yang telah berupaya menyusun puzzle utuh pemikiran Ibn Taimiyah melalui 10 karya pentingnya, yang berjudul Ibn Taimiyya and The Attributes of God (Suleiman & El-Tobgui, 2024), serta kompilasi tulisan para sarjana studi Islam yang secara khusus mempersembahkan pikiran dan tenaga serta finansialnya untuk mengkaji Ibn Taimiya dalam sebuah antologi bertajuk “Ibn Taimiyya and His Times” (Rapoport & Ahmed, 2010).

Pada serial pertama kali ini, esai ini akan memberikan penyajian ulang atas uraian panjang Suleiman yang membincang “Linguistic Fondations” Ibn Taimiyah yang fokus pada dikotomi aqīqah dan majāz (Suleiman & El-Tobgui, 2024, pp. 141–172). Sekalipun tidak ada kata “Qur’an’” di sana, tetapi pembahasan ini tidak bisa dilepaskan dari al-Qur’an sekalipun diskusinya berkaitan kalām—kesimpulan ini akan diulas di akhir perjalanan serial ini. Semoga pembaca dapat menikmatinya dan serial ini bisa terus berlanjut.

Kritik Ibn Taimiyah Terhadap Dikotomi aqīqahMajāz

Dikotomi aqīqah dan majāz telah mendapatkan kesepakatan di kalangan para cendekiawan Islam di setiap mazhab. Hari ini, sebagai bahan refleksi sebagaimana yang saya alami baik ketika menjadi mahasiswa maupun saat ini berkesempatan mengajar satu kelas Balagah, tema perkuliahan tentang aqīqah dan majāz bahkan telah terinstitusionalisasi dalam kurikulum studi Islam dan diterima begitu saja sebagai dua istilah yang saling membelakangi satu sama lain tanpa ada kritik sejarah.

Secara sederhana aqīqah didefinisikan sebagai ungkapan yang digunakan dalam makna asalnya yang tepat, sedangkan majāz merujuk pada ungkapan yang digunakan dalam makna kiasan. Sekalipun, dalam tulisannya ini, Suleiman mencegah untuk menggunakan padanan kata bahasa Inggris untuk mewakili kedua term tersebut dengan mengikuti pandangan Bernard Weiss, bahwa kedua istilah teknis ini memang tidak memiliki padanan dan terjemahan yang memadai sehingga lebih baik dibiarkan dalam format bahasa Arabnya.

Sebelum masuk pada pemikiran Ibn Taimiyah, Suleiman memberikan pengantar bahwa pre-asumsi dikotomi aqīqah dan majāz merupakan pandangan klasik yang dapat dilacak sampai Aristoteles (w. 322 SM)—tradisi filsafat Yunani memang sepertinya terlibat sangat aktif dalam sejarah intelektual Islam. Sepanjang sejarah diskursifnya, dikotomi ini hanya mendapati sedikit sekali oponen.

Mengambil catatan al-Math‘anī—yang dijumpai dalam catatan kaki, Suleiman mengulas bahwa sebelum masa Ibn Taimiyah, hanya ada sekitar 10 tokoh yang menolak majāz dan nama terkemuka di antaranya ialah Dawud al-Zhahiri, Abu Ishaq al-Isfarayini, yang merupakan salah satu sarjana bermazhab Syafi’i, dan seorang mu’tazili, Abu Muslim al-Asfahani, sekalipun nama terakhir diragukan validitasnya. Pasca Ibn Taimiyah, ada tiga nama yang tercatat yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziya—murid Ibn Taimiyah, Muhammad Amin al-Syinqithi dan Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin. Ketiganya, tidak bisa disangsikan, merupakan sarjana di bawah bendera pemikiran Ibn Taimiyah.

Pengantar lainnya yang juga penting untuk ditampilkan di sini ialah ulasan ringkasnya terhadap karya kontributif pertama dalam bahasa Eropa yang berhasil mengklarifikasi posisi Ibn Taimiyah dalam dikotomi aqīqah dan majāz. Ialah Mohmaed Yunis Ali dan monografnya Medieval Islamic Pragmatics: Sunni Legal Theorists’ Models of Textual Communication yang terbit di tahun 2000 yang menyajikan kesimpulan “baru” mengenai sikap rejektif Ibn Taimiyah terhadap majāz bukan dalam motivasi penolakan dogmatik ataupun seruan naif yang dialamatkan kepada para penganut taʾwīl.

Dengan kata lain, Ali seolah ingin mengatakan bahwa penolakan dan kritik Ibn Taimiyah terhadap dikotomi aqīqah dan majāz merupakan hasil dari kecermatannya sebagai seorang akademisi yang kritis, bukan ideolog yang secara tendensius membela dogma yang dianggapnya paling benar.

Terakhir, sebelum benar-benar menyantap main course dari sajian esai ini, ada fondasi penting lainnya yang diuraikan oleh Suleiman tentang pendapat mayoritas yang menjadi premis dasar dari dikotomi aqīqah dan majāz yang berlaku. Pada fondasi ini, ada dua kata kunci penting yaitu wadh‘u (tindakan penetapan makna utama bagi sebuah lafaz yang tampak dan khusus pada dirinya) dan isti‘māl (penggunaan lafaz dalam makna utamanya maupun makna sekundernya yang masih memiliki hubungan semantik/ munāsabah dengan makna utamanya).

Pada term teknis pertama, wadh‘u, tanda linguistik atau lafaz difungsikan dalam maknanya yang utama atau aqīqah. Lalu yang kedua, isti‘māl, merujuk pada fungsi tutur yang potensial digunakan pada makna sekundernya bersamaan dengan adanya isyarat melalui apa yang diistilah dengan qarīnah atau indikator tambahan yang memungkinkan suatu lafaz tidak dimaknai pada makna utamanya.

Seperti contoh kata “aku melihat seekor ‘singa’ yang memegang pedang di tangannya”, maka lafaz ‘singa’, jika merujuk pada logika bahasa umum, akan langsung dimaknai berdasarkan wadh‘u yaitu kucing besar pemangsa yang ganas, namun redaksi selanjutnya ‘singa memegang pedang’ dianggap sebagai qarīnah yang kemudian memaksa ‘singa’ dimaknai pada makna sekundernya, ‘orang yang pemberani’, berdasarkan isti‘māl dan hubungan semantiknya/ munāsabah antara ‘singa’ sebagai objek materil dengan ‘singa’ sebagai simbol keberanian atau objek kiasan [majāzī]. Proses pengalihan makna ini diistilahkan secara populer dengan ta’wīl atau dalam definisi umum, “pengalihan makna utama (rāji) menuju makan sekunder/ kiasan (marjū) karena adanya qarīnah”.

Mari kita masuk pada hidangan utamanya, kritik Ibn Taimiyah terhadap dikotomi aqīqah dan majāz. Suleiman mengemukakan bahwa Ibn Taimiyah menulis bahasan ini banyak tempat dalam karya-karyanya, namun elaborasi kritiknya yang ekstensif dapat dijumpai dalam dua judul bukunya Qāʿida fī al-Ḥaqīqa wa al-Majāz dan Imān. Pada dua karyanya itu, kritik Ibn Taimiyah berakar dan bermula dari uraian historis dari dikotomi ini. Saya akan mengutip paragraf yang disajikan oleh Suleiman,

This distinction is a convention that emerged after the first three generations (qurūn) [of Islam]. It was spoken of neither by the Companions of the Prophet, nor by their righteous followers from the second generation, nor by any of the leading scholars (aʾimma) reputed for their knowledge, such as Mālik, al-Thawrī, al-Awzāʿī, Abū Ḥanīfa, and al-Shāfi’ī. Indeed, it was not even mentioned by the leading philologists and grammarians, such as al-Khalīl [b. Aḥmad al-Farāhīdī] (d. 175/791 or 170/786 or 160/776), Sībawayh (d. ca. 180/796), Abū ʿAmr b. al-ʿAlāʾ (d. 154/771), and their likes.

[Pembedaan ini hanyalah sebuah konvensi yang muncul setelah tiga generasi (qurūn) pertama [dalam Islam]. Ia tidak pernah dibicarakan oleh para Sahabat Nabi, tidak pula oleh para pengikut saleh mereka dari generasi kedua, dan tidak juga oleh para ulama terkemuka (aʾimma) yang masyhur keilmuannya, seperti Mālik, al-Thawrī, al-Awzāʿī, Abū Ḥanīfa, dan al-Shāfi‘ī. Bahkan, ia juga tidak disebutkan oleh para ahli bahasa dan nahwu terkemuka, seperti al-Khalīl [b. Aḥmad al-Farāhīdī] (w. 175/791 atau 170/786 atau 160/776), Sībawayh (w. ±180/796), Abū ʿAmr b. al-ʿAlāʾ (w. 154/771), dan yang semisal dengan mereka.]

Kritik sejarah yang dilakukan Ibn Taimiyah memberikan kesan bahwa ia ingin membuktikan bahwa ada suatu dari luar (external factor) yang menyebabkan adanya perubahan konvensi bahasa di dunia Islam. Dari pendapatnya itu, penolakan Ibn Taimiyah terhadap dikotomi aqīqah dan majāz sangat bisa dilihat sebagai tendensinya menyerang Mu’tazilah sebagai pencetus dikotomi tersebut di kesarjanaan Islam yang sekaligus menjadi role model bagi sebagian kalangan Hanbali maupun Asy‘ari yang telah mengakomodasi pandangan tersebut dalam paradigma kalām-nya.

Supaya pembaca dapat lebih memahami kalimat terakhir dari paragraf yang telah ditulis sebelumnya, saya juga tengah menyusun tulisan yang membahas latar historis-intelektual yang mengiringi dan selanjutnya menjadi objek kritik Ibn Taimiyah. Fragmen itu sangat penting sebab, tanpanya, proses memahami Ibn Taimiyah tidak akan bisa dilakukan secara utuh dan buah pikirannya nanti akan sangat rentan direduksi atau bahkan disalahpahami. Adapun karena ruang tulisan yang tidak memungkinkan saya melanjutkan ulasan atas keseluruhan fondasi linguistik Ibn Taimiyah di sini, esai series pertama ini harus terbagi pada beberapa bagian dan terbitan kedua akan membahas mengenai kritik substantif Ibn Taimiyah terhadap dikotomi aqīqah dan majāz.

Referensi

Azra, A. (with Maarif Institute for Culture and Humanity). (2017). Reformulasi ajaran Islam: Jihad, khilafah, dan terorisme (M. A. Darraz, Ed.; Cetakan 1). Kerja sama Maarif Institute for Culture and Humanity [dan] Mizan.

Benjamin, D., & Simon, S. (2002). The Age of Sacred Terror. Random House Publishing Group.

Esposito, J. L., & Kalın, İ. (2011). Islamophobia: The challenge of pluralism in the 21st century. Oxford university press.

Fina, L. I. N. (2024, June 1). Ketika Dialog Antaragama Menjadi Alat Normalisasi Kolonialisme Israel terhadap Palestina. Islami[Dot]Co. https://islami.co/ketika-dialog-antaragama-menjadi-alat-normalisasi-kolonialisme-israel-terhadap-palestina/

Hallaq, W. B. (Ed.). (1993). Ibn Taymiyya Against the Greek Logicians (1st ed.). Oxford University PressOxford. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780198240433.001.0001

Ibn Taimiya, A. I.-’Abd-al-H. (1976). Ibn Taimiya’s Struggle Against Popular Religion: With an Annotated Translation of His Kitab iqtida as-sirat al-mustaqim mukhalafat ashab al-jahim (M. U. Memon, Ed.). De Gruyter. https://doi.org/10.1515/9783111662381

Little, D. P. (1973). The Historical and Historiographical Significance of the Detention of Ibn Taymiyya. International Journal of Middle East Studies, 4(3), 311–327. JSTOR.

Rapoport, Y., & Ahmed, S. (2010). Ibn Taymiyya and His Times. Oxford University Press.

Sharif El-Tobgui, C. (2020). Ibn Taymiyya on Reason and Revelation: A Study of Darʾ taʿāruḍ al-ʿaql wa-l-naql. BRILL. https://doi.org/10.1163/9789004412866

Suleiman, F., & El-Tobgui, C. S. (2024). Ibn Taymiyya and the Attributes of God. BRILL. https://doi.org/10.1163/9789004499904

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *