Penafsiran Sittati Ayyam atas Penciptaan Alam Semesta Perspektif Zaghlul Al-Najjar (Telaah Surah Al-A’raf 54)

Seringkali, pertanyaan tentang kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan alam semesta menyebabkan perdebatan dan diskusi yang menggabungkan elemen iman dan ilmu pengetahuan. Banyak ayat dalam Al-Qur’an membahas ilmu pengetahuan, tetapi banyak penafsir mengabaikannya.(Firmansyah, 2021, hlm. 88-102)

Salah satu pakar tafsir dalam bidang sains yakni, Zaghlul An-Najjar, menekankan betapa pentingnya menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan pemahaman ilmiah modern. Banyak fenomena alam semesta dan ciptaan-Nya yang dapat dilihat digambarkan dalam Al-Qur’an. Ini termasuk pergantian siang dan malam, matahari, bulan, dan planet-planet. Namun, informasi tentang penciptaan alam semesta tidak disajikan secara sistematis dalam Al-Qur’an seperti yang dilakukan dalam teks-teks ilmiah. Sebaliknya, banyak ayat dalam berbagai surah Al-Qur’an mengandung wawasan-wawasan ini. (Zaini, 2018, hlm. 31)

Bacaan Lainnya

Penelitian ini bertujuan untuk lebih mendalami makna sittati ayyām dalam kaitannya dengan interpretasi Zaghloul Al-Najjar mengenai penciptaan alam semesta. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian deskriptif-analitis, dimana penulis mendeskripsikan makna dari sittatu ayyam kemudian menganalisisnya serta menyimpulkan nya.

Teori Penciptaan Alam Semesta Dalam Kacamata Al-Quran dan Sains

Menurut Al-Quran, Dimulai pada hari Minggu dan berakhir pada hari Jumat, Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Karena itu, hari Jumat dianggap sebagai hari istirahat bagi umat Islam karena menandai penutup penciptaan. Dalam menafsirkan enam hari tersebut, para ulama berbeda pendapat. Sebagian besar berpendapat bahwa mereka merujuk pada hari-hari biasa.(Ramadhan Syah, 2025, hlm.120 )

Menurut Sains, Menurut teori relativitas, fisikawan Rusia Alexander Friedmann menciptakan perhitungan yang mengungkap struktur alam semesta pada tahun 1922. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa bahkan dorongan kecil dapat menyebabkan perluasan atau kontraksi. Georges Lemaître, seorang astronom Belgia, adalah orang pertama yang memahami dampak dari karya Friedmann. Dengan demikian, Lemaître mengusulkan bahwa peristiwa primordial menyebabkan alam semesta berkembang dari awal. (Lemaître, 2013, hlm. 1635-1646)

Sekilas Biografi Zaghlul Al-Najjar dan Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyah Fi Al-Al-Qur’an Al-Karim

Nama lengkapnya adalah Zaghlul Raghib Muhammad al-Najjar, dan dia adalah seorang ahli tafsir Al-Qur’an yang terkenal. Dia lahir di desa Masyal, Bison, Mesir, pada tanggal 17 November 1933. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan memiliki tradisi belajar yang kuat, ia menghafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun. Latar belakang keluarganya sangat memengaruhi prestasinya: kakeknya adalah seorang ulama terkenal, ayahnya adalah seorang hafiz Al-Qur’an dan pemilik perpustakaan, dan dia juga bekerja sebagai guru di pusat kota. (Al-Najjar, 2007, hlm. 9)

Al-Najjar mulai belajar di Kairo pada tahun 1940. Dia lulus dengan predikat cum laude dan memperoleh sertifikat keahlian dalam bahasa Arab pada tahun 1951. Pada tahun 1955, dia menyelesaikan studi sarjana geologi di Universitas Kairo dengan predikat cum laude, dan pada tahun 1967, dia memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Wales. Setelah itu, Al-Najjar menjabat sebagai ketua Komisi Keajaiban Ilmiah Al-Qur’an dan Sunnah di Mesir sejak tahun 2001.(Al-Najjar, 2007, hlm. 11)

Al-Ayāt al-Kauniyyah fī al-Qur’ān al-Karīm adalah tafsir kontemporer Al-Qur’an yang berfokus pada ayat-ayat kauniyyah, yaitu ayat-ayat yang berkaitan dengan alam semesta dan fenomenanya. Tujuan tafsir ini adalah untuk menghubungkan ajaran Al-Qur’an dengan temuan ilmiah baru. Karya ini menggunakan metode tematik: ayat-ayat tentang topik tertentu, seperti penciptaan langit dan bumi, gunung, laut, hujan, perkembangan embrio, dll., dikumpulkan, dianalisis secara linguistik, dan dibandingkan dengan tafsir klasik. (Mustikasari & Badrun, 2021, hlm. 36)

Penafsiran Sittati Ayyam Perspektif Zaghlul Al-Najjar dalam Tafsir Al-Ayāt al-Kauniyyah fī al-Qur’ān al-Karīm : Telaah Surah Al-A’raf ayat  54

Penjelasan bahwa “Enam hari” bukan hari seperti hari bumi kita

Dalam tafsir Al-Ayāt al-Kauniyyah fī al-Qur’ān al-Karīm, dijelaskan bahwa :

“لقد اتفق جمهور المفسرين على أن أيام خلق السماوات والأرض ستة هي ست مراحل، أو ست فترات، أو أفطار، أو أحداث كونية متتابعة، لا يعرف مداها إلا الله تعالى، وأنها لا يمكن أن تكون من أيام الأرض، لأن الأرض لم تكن قد خلقت بعد، ولذلك لم توصف أيام خلق السماوات والأرض بالوصف القرآني ما يعدون الذي جاء في آيات أخرى عديدة بمعنى اليوم الأرضي .”

Terjemahan : “Sesungguhnya telah sepakat jumhur mufassirin bahwa hari-hari penciptaan langit dan bumi yang enam adalah enam tahap, atau enam periode, atau enam kejadian kosmik yang berurutan, yang tidak diketahui batasannya kecuali oleh Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya tidak mungkin hari-hari itu sama dengan hari-hari bumi, karena bumi belum diciptakan pada saat itu. Oleh karena itu, hari-hari penciptaan langit dan bumi tidak digambarkan dengan penjelasan Qur’ani ‘mما تعدون‘ (yang kalian hitung) yang datang dalam ayat-ayat lain yang menunjukkan hari bumi.”(Al-Najjar, 2007, hlm. 277)

 

Enam hari adalah enam tahapan penciptaan yang berbeda

Al-Najjar menggunakan bagian ini sebagai fondasi linguistik untuk kemudian menjelaskan dalam tafsirnya :

“مدلول لفظة اليوم في القرآن الكريم: وردت لفظة يوم مشتقة في القرآن الكريم ٣٦٥ مرة، منها ٢٤٩ مرة بلفظ اليوم، ١٦ مرة يوما ومعدودها ٣٦٥ مرة وهو عدد أيام السنة تقريبا في زماننا”

Terjemahan : “Arti kata “hari” dalam Al-Qur’an: Kata “hari” muncul sebanyak 365 kali dalam Al-Qur’an, di antaranya 249 kali dengan bentuk kata ‘اليوم’ (hari ini), 16 kali dengan bentuk kata “يوما” (hari), dan jumlahnya 365 kali, yang kira-kira sama dengan jumlah hari dalam setahun pada zaman kita” (Al-Najjar, 2007, hlm. 277)

Variasi makna “hari” dalam Al-Quran

  • Hari dunia (24) jam
  • Hari akhirat (50.000) tahun
  • Hari penciptaan (periode kosmik)

Penafsiran “enam hari” sebagai enam fase

  • Fase big bang
  • Fase pembentukan materi
  • Fase pembentukan galaksi
  • Fase pembentukan tata surya
  • Fase pembentukan bumi
  • Fase pembentukan kehidupan

Enam tahapan penciptaan menurut ilmu pengetahuan modern

Al-Najjar juga mengutip pendapat saintifik dalam tafsirnya mengenai enam hari dalam penciptaan alam semesta.

“أيام الخلق الستة في منظور العلوم المكتسبة يرى أهل العلوم المكتسبة مراحل خلق الكون على النحو التالي: (١) مرحلة الجرم الابتدائي الأولى الذي بدأ منه انفجار (مرحلة البدء) (٢) مرحلة انفجار الجرم الابتدائي الأولى (مرحلة الفتق أو المرحلة الانفجارية) وبدء توسع الكون (٣) مرحلة خلق العناصر المختلفة في السماء الدخانية – عبر خلق المادة والمادة المضادة، وتكون غيوم الهيدروجين والهيليوم وبعض النجوم (٤) مرحلة انفصال دوامات من الدخانية الرحمانية وتكونها على دنيا بتعمل المجالبية لتكوين كل من الأرض ودنيا أجرام”

Terjemahan : “Enam hari penciptaan dalam perspektif ilmu pengetahuan modern Para ilmuwan modern memandang tahapan penciptaan alam semesta sebagai berikut: (1) Tahap awal pembentukan benda langit yang menjadi titik awal ledakan (tahap awal) (2) Tahap ledakan benda langit awal (tahap pembentukan atau tahap ledakan) dan dimulainya perluasan alam semesta (3) Tahap penciptaan berbagai unsur di langit berasap – Melalui penciptaan materi dan antimateri, terbentuklah awan hidrogen dan helium serta beberapa bintang (4) Tahap pemisahan pusaran dari asap rahmat dan pembentukannya di dunia dengan cara menarik untuk membentuk bumi dan benda-benda langit. (Al-Najjar, 2007, hlm. 273)

Ayat “Kun Fayakun” vs Penciptaan 6 Hari : Mengapa bertahap?

Dengan perintah “Kun fayakūn”, yang berarti “Jadilah, maka jadilah,” Allah Maha Kuasa dan memiliki kemampuan untuk membuat segala sesuatu dengan cepat. lalu, mengapa penciptaan alam semesta dilakukan dalam enam tahap, atau dalam jangka waktu yang lebih lama?

Penafsiran Al-Najjar :

“ليس في خلقه شيء بيده (سبحانه وتعالى) كما وصف ذاته العلية بقوله”

Terjemahan :” “Tidak ada sesuatu pun dalam ciptaan-Nya yang berada di tangan-Nya (Maha Suci dan Maha Tinggi), sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya yang Maha Tinggi dengan firman-Nya:”(Al-Najjar, 2007, hlm. 287-288)

Secara bertahap, Allah menciptakan alam semesta untuk menunjukkan kehendak dan kebijaksanaan-Nya, mengajarkan manusia nilai sistem dan keteraturan, mengajak mereka untuk merenungkan dan mempelajari proses penciptaan, dan menunjukkan bahwa alam semesta beroperasi berdasarkan hukum alam yang konsisten (sunnatullāh).

Catatan Akhir

Studi ini menunjukkan bahwa Zaghlul Al-Najjar menafsirkan “sittati ayyām” sebagai enam fase kosmis, bukan enam hari yang sebenarnya, karena bumi belum ada pada awal penciptaan. Dari sudut pandang linguistik, ia menekankan bahwa istilah “yawm” dalam Al-Qur’an memiliki banyak arti, dapat merujuk pada hari duniawi, Hari Kiamat, atau periode kosmis. Sejalan dengan Teori Big Bang, penafsirannya menggambarkan penciptaan sebagai proses yang terdiri dari enam tahap, dengan munculnya kehidupan dan bumi sebagai titik puncak.

Pendekatan tafsīr “ilmi” menekankan bahwa tidak ada kontradiksi antara wahyu dan ilmu pengetahuan, dan menekankan indikasi ilmiah Al-Qur’an yang menjanjikan temuan ilmiah baru. Penciptaan bertahap dianggap sebagai manifestasi sunnatullāh, relativitas waktu, dan dorongan untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan sambil mempertahankan integritas teologis Al-Qur’an. Dengan bantuan versi gratis DeepL.com, diterjemahkan.

Referensi

Al-Najjar, Z. (2007). Tafsir al-Ayat al-Kawniyyat fi al-Quran al-Karim. In Cairo: Maktabat al-Shuruq al-Dawliyyat. Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah.

Firmansyah, R. (2021). Metodologi Tafsir Ilmi. Jurnal Dirosah Islamiyah, 3(1), 88–102.

Lemaître, G. (2013). Republication of: A homogeneous universe of constant mass and increasing radius accounting for the radial velocity of extra-galactic nebulae. General Relativity and Gravitation, 45, 1635–1646. https://doi.org/10.1007/s10714-013-1548-3

Mustikasari, I. P., & Badrun, M. (2021). Urgensi Penafsiran Saintifik Al-Qur’an: Tinjauan atas Pemikiran Zaghlul Raghib Muhammad al-Najjar. Studia Quranika. https://doi.org/10.21111/studiquran.v6i1.5674

Nasution, R. S. (2025). Konsep Penciptaan Alam Semesta Dalam Al-Qur ’ an dan Sains. Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Filsafat, 2.

Zaini, M. (2018). Alam Semesta Menurut Al-Qur’an. Tafse: Journal of Qur’anic Studies, 3(1), 30–46.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *