Biografi Singkat AG. KH. Dawud Ismail
AGH. (Anre Gurutta Haji), gelar ulama Sulsel, disandang oleh Daud Ismail, ulama terkemuka kelahiran Cenrana, Soppeng, pada 30 Desember. Ia merupakan satu-satunya anak laki-laki dan bungsu dari sebelas bersaudara pasangan tokoh masyarakat H. Ismail dan Hj. Pompola. Dalam perjalanan hidupnya, beliau menikah tiga kali dan dikaruniai lima orang anak.(Herlena dan Hasri, 2020: 243).
AGH. Daud Ismail menempuh pendidikan non-formal hingga ke Mekkah dan menguasai baca tulis secara otodidak. Ia mendalami beragam kitab kuning di bawah bimbingan ulama besar seperti AGH. As’ad di MAI Wajo, bersama sahabat yang kelak menjadi tokoh hebat. Berkat kedalaman ilmunya, beliau bahkan dipercaya menjadi guru bantu saat masih berstatus santri.(Herlena dan Hasri, 2020:244).
AGH. Daud Ismail mengembangkan syiar Islam melalui pendekatan multidimensi yang komprehensif. Selain aktif berdakwah secara lisan di tengah masyarakat, beliau menginstitusikan pendidikan dengan mendirikan pondok pesantren. Semangat dakwahnya pun turut diabadikan dan disebarluaskan melalui berbagai karya tulis yang beliau hasilkan. (Syakhlani, 2018: 173).
Karya monumental AGH. Daud Ismail yang paling masyhur adalah Tafsir Al-Munir, sebuah tafsir lengkap 30 Juz yang ditulis dalam bahasa Bugis beraksara Lontara. Kitab ini menyajikan terjemahan serta penafsiran Al-Qur’an yang disusun secara sistematis ke dalam sepuluh jilid, di mana setiap jilidnya memuat pembahasan tiga juz secara berurutan. (Syakhlani, 2018: 175)
Penelitian ini bertujuan menggali konsep ‘Tarbiyah’ dalam Tafsir Al-Munir karya AGH Daud Ismail yang krusial untuk diperkenalkan. Fokus utamanya adalah menganalisis perspektif beliau dalam menafsirkan ayat-ayat pendidikan Al-Qur’an, guna mengungkap kekhasan pemikiran pedagogis yang tertuang dalam karya berbahasa Bugis tersebut.
Ayat Tentang Penguatan Literasi
Asal-usul pendidikan Islam berakar pada motivasi teologis periode awal yang menempatkan ilmu pada posisi mulia. Hal ini dibuktikan oleh wahyu pertama (QS. Al-Alaq: 1-5) dengan perintah “Iqra” atau “bacalah”. Istilah yang juga bermakna “mengkaji” ini menjadi penggerak utama tradisi belajar kaum muslim, sekaligus penegas bahwa Islam sejak mula memadukan iman dan intelektualitas sebagai jalan meninggikan derajat manusia. (Mas’ud, 2020: 47)
Dalam Tafsir Al-Munir Surah Al-’Alaq 1-5, AGH Dawud Ismail menekankan urgensi literasi bagi Nabi dan umatnya. Penafsiran ini diawali dengan paparan konteks historis di Gua Hira dan asbab al-nuzul yang bersumber dari hadis riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim, sebagai landasan fundamental pendidikan Islam.Penafsiran Beliau QS. Al-’Alaq ayat 1 dalam bahasa Bugis:
Dalam tafsir kata Abbacako, AGH Dawud Ismail menjelaskan bahwa kemampuan membaca Nabi Muhammad terwujud murni atas kehendak Allah SWT. Meski Nabi seorang ummi yang tak bisa menulis, kuasa Allah memampukan beliau membaca Al-Qur’an, setara dengan kuasa penciptaan semesta yang menegaskan bahwa tiada yang mustahil bagi-Nya. (Ismail, 2010: 241).
Penerjemahan iqra’ sebagai “membaca” memantik diskursus mengenai status ummi Nabi Muhammad SAW dalam konteks literasi. Aktivitas membaca sejatinya mensyaratkan integrasi penglihatan fisik (basar) dan ketajaman batin (basira). Para mufasir lintas zaman, mulai dari Ath-Thabari hingga Muhammad Abduh, sepakat bahwa keterbatasan teknis tersebut sirna oleh mukjizat Allah yang memampukan Nabi menerima dan membaca wahyu. (Mas’ud, 2020: 48).
Dalam menafsirkan AGH. Dawud Ismail memaknai pengulangan kata Iqra’ sebagai taukid yang mempertegas perintah membaca, baik ayat Qauliyah maupun Kauniyah. Hal ini merefleksikan sifat Maha Pemurah Allah yang menjamin kemudahan bagi hamba-Nya, sekaligus menegaskan bahwa memberikan kemampuan literasi kepada Nabi adalah niscaya bagi Sang Pencipta. (Ismail, 2010:242).
KH. Al-’Alaq menegaskan relevansi literasi sebagai pondasi fundamental penguasaan ilmu di era digital. Perintah Iqra’ dimaknai melampaui sekadar teks, yakni pembacaan kontekstual atas fenomena kehidupan. Kecakapan ini menjadi kunci utama menguasai ragam literasi modern sekaligus bekal vital dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. (Damanik dan Azmi, 2025: 553).
Begitupun beliau memaknai Qalam sebagai media transmisi ilmu yang berfungsi layaknya lidah pengajar meski tak bernyawa. Analogi ini menegaskan jika benda mati saja mampu menjadi alat pengetahuan, maka Nabi Muhammad sebagai insan kamil tentu jauh lebih mampu dan otoritatif dalam menerima serta menyampaikan kebenaran wahyu. (Ismail, 2010:242).
Qalam merupakan simbol abadi transformasi ilmu dan nilai lintas generasi, yang tetap relevan mulai dari masa Yunani hingga era informasi digital. Tanpa tradisi tulis-menulis yang direpresentasikan oleh Qalam, proses pewarisan budaya dan keberlanjutan peradaban mustahil dapat terwujud secara utuh. (Mas’ud, 2020: 49).
AGH. Dawud Ismail menafsirkan ayat kelima sebagai penegasan peran Nabi dalam mentransformasi umat dari ketidaktahuan menjadi berilmu. Hal ini menjadi peringatan agar manusia tidak statis dalam kebodohan, melainkan wajib terus belajar dan membaca, karena Allah SWT senantiasa membuka jalan pengetahuan bagi mereka yang mau berusaha. (Ismail, 2010:242).
Ayat tentang kesadaran spiritual dan Intelktual (Ulul Albab)
Secara etimologis, Ulul Albab bermakna pemilik intisari (lubb), yang didefinisikan beragam oleh para cendekiawan. Mulai dari Yunus dan Rifa’i yang mengartikannya sebagai orang berakal kuat, Hamka sebagai pemilik pikiran, hingga Yusuf Ali dengan Men of Understanding. Meski redaksinya bervariasi, seluruh penafsiran ini bermuara pada substansi yang sama, yakni pemilik akal budi dan kedalaman pemahaman yang substansial. (Qodratulloh, 2016: 17).
KH. Ali Imran: 190-191 mendefinisikan Ulul Albab sebagai pribadi yang memadukan iman dan sains melalui pemikiran kritis terhadap fenomena semesta. Mereka senantiasa mengingat Allah dalam segala kondisi sembari merenungi pergantian waktu serta penciptaan langit dan bumi. Muara dari tafakur ini adalah kesadaran penuh bahwa tiada ciptaan Allah yang sia-sia, melainkan sarat akan hikmah.
Bagi AGH Dawud Ismail, Ulul Albab mencerminkan integrasi tafakur terhadap harmoni makrokosmos, seperti keteraturan langit dan siklus waktu. Kesadaran ini ditarik lebih dalam ke mikrokosmos, merenungi kompleksitas penciptaan diri manusia hingga kerumitan sel dan otak. Semua itu dipandang sebagai satu kesatuan bukti keagungan Ilahi yang tak terbantahkan.
Keragaman flora fauna serta siklus suhu siang malam ditafsirkan sebagai manifestasi nyata kebesaran dan kesempurnaan ilmu Allah SWT. AGH. Dawud Ismail menegaskan bahwa fenomena semesta ini bukan sekadar kejadian alam, melainkan bukti kekuasaan mutlak-Nya. Namun, pemaknaan mendalam atas tanda-tanda ini hanya dapat dijangkau oleh mereka yang mendayagunakan akal (Ulul Albab). (Ismail, 2010: 126).
Dalam tafsirnya, orang berakal disebut sebagai Tau simata marengerange ri Puang Allah Ta’ala, yakni mereka yang senantiasa berzikir dalam segala kondisi fisik, baik berdiri, duduk, atau berbaring. Ingatan ini terpatri kuat di hati, merefleksikan kesadaran penuh akan keagungan Allah sekaligus rasa syukur atas limpahan nikmat yang mereka terima.
Refleksi ini bermuara pada munajat yang mengakui bahwa tiada ciptaan semesta yang sia-sia, sembari menyucikan Allah dan memohon perlindungan dari neraka. Inilah wujud keseimbangan paripurna antara nalar kritis, integrasi iman-sains, dan zikir. Bagi AGH Dawud Ismail, pencapaian intelektual wajib dibingkai oleh spiritualitas yang menghamba. (Ismail, 2010: 127).
Pemikiran pendidikan AGH. Daud Ismail dalam Tafsir Al-Munir menawarkan integrasi harmonis antara literasi intelektual (Iqra’) dan kesadaran spiritual dan Intelektual (Ulul Albab). Ia menegaskan bahwa pendidikan Islam sejatinya mencetak insan yang cerdas membaca tanda-tanda semesta sekaligus pribadi yang senantiasa berzikir dalam bingkai ketauhidan. Warisan intelektual berbasis kearifan lokal Bugis ini menjadi relevan sebagai landasan pembentukan karakter ilmuwan yang religius di tengah tantangan era modern.
Referensi
Ismail, AG. KH. Dawud. Tafsir Al-Munir Tarjumana nenniya Tafserena Aqorange Mabbicara Ogi. Ujung Pandang: CV. Bintang Selatan, 2010.
Herlena, Winceh, dan Muh. Mu’ads Hasri. “Unsur Lokalitas dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya AGH. Daud Ismail (Studi Analisis Psychological Hermeneutics terhadap QS. Al-Maidah 5:90).” Afkar, vol. 9, no. 2, 2020.
Syakhlani, M. Mufid. “Kajian Tafsir Nusantara: Tafsir Al-Quran Berbahasa Bugis (Ugi) Karangan AGH Daud Ismail.” Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial 1, no. 2, 2018.
Damanik, Muhammad Zein, dan Fauziah Nur Azmi. “Tafsir QS. Al-‘Alaq: 1-5 dalam Menjawab Tantangan Menuntut Ilmu di Era Digital.” At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam 2, no. 2, 2025.
Mas’ud, Abdurrahman. Paradigma Pendidikan Islam Humanis. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020.
Qodratulloh S., Waway. “Konsep Ulul Albâb dalam Al Quran dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi.” Sigma-Mu 8, no. 1, 2016.





