Intuisi dan Ruang dan Waktu

Sudah jamak dipahami bahwa di dalam Islam, pengetahuan tidak hanya didapatkan dari indera dan akal, tetapi juga dari intuisi. Pemahaman seperti ini menjumpai penolakan dari, terutama penolakan terhadap intuisi. Karena itu, penting dijawab pertanyaan berikut: Apakah intusisi ada? Jika ada, bagaimana memahami bahwa intuisi bisa dipertanggungjawabkan?

Penolakan terhadap intuisi terutama karena pengetahuan dianggap ditentukan oleh ruang dan waktu. Di dalam ruang dan waktu itulah hadir benda-benda dan perubahannya. Tidak mungkin benda dipahami tanpa ruang dan tidak mungkin perubahan dipahami tanpa waktu. Benda dan perubahan adalah realitas objektif, sedangkan ruang dan waktu adalah realitas subjektif.

Bacaan Lainnya

Konsekuensi dari benda dan perubahan sebagai realitas objektif serta ruang dan waktu sebagai realitas subjektif adalah realitas benda dan perubahan tidak akan pernah dipahami hakikatnya. Yang dipahami hanya penampakannya saja. Konsekuensi lainnya adalah bahwa hanya indera dan akal saja sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan, sedangkan intuisi bukan.

Tentu saja sulit ditolak pemahaman bahwa ruang dan waktu adalah realitas subjektif karena dengan itulah manusia mampu memahami benda dan perubahan. Namun demikian, apakah memang tidak mungkin manusia mengetahui hakikat benda dan perubahan? Lebih jauh, apakah dengan demikian, intuisi memang tidak ada?

Umumnya manusia memang memahami benda dan perubahannya dengan mengandalkan ruang dan waktu subjektif yang dimilikinya. Namun, bagi manusia, ruang dan waktu hanyalah salah satu alat yang mungkin dipakai, bukan satu-satunya. Barangkali bagi hewan, ruang dan waktu memang adalah satu-satunya alat, namun bagi manusia, bukan. Barangkali hewan mengetahui kubus, tetapi tidak punya konsep tentang kubus. Hanya manusia yang mampu memahami kubus sekaligus mengingatnya dan bahkan mengonseptualisasikannya.

Mengapa bagi manusia tidak? Objek pengetahuan manusia bukan hanya benda dan perubahan karena itu hanya mencakup ruang benda materi. Bagi manusia, ada objek pengetahuan selain itu, yaitu ruang wujud immateri dan juga ruang Tuhan. Bahkan benda materi pun tidak satu macam. Ada benda materi kasar, misalnya segala yang kasat mata. Ada juga benda materi halus seperti udara dan suara. Jelas yang satu ini berbeda dengan benda materi kasar, terutama suara. Terakhir, ada benda materi yang berwujud cahaya. Cahaya berpendar ke sana kemari tanpa harus memindah udara, jadi cahaya lebih halus dari udara.

Wujud immateri seperti malaikat bahkan sama sekali tidak terpengaruh oleh benda materi kasar sehingga tidak bisa dengan mudah disebut malaikat bergerak atau tidak bergerak, sama dengan jiwa manusia. Terakhir, ruang Tuhan. Ruang ini bebas dari semua dimensi, bahkan tidak berada di dalam ruang dan waktu sehingga tidak tunduk pada aturan-aturan benda dan perubahan.

Untuk mampu memahami seluruh objek pengetahuan yang disebutkan di atas, manusia memahami ruang tidak sebagaimana hewan memahami ruang. Akibat tidak adanya konsep bagi hewan, maka setiap peristiwa baginya adalah waktu dan hanya menjadi ruang saat hewan mengalaminya. Adapun bagi manusia, dengan bekal konseptualisasi yang dimilikinya, maka sesuatu bisa menjadi ruang baginya tanpa harus mengalaminya. Misalnya, seorang arsitek yang sudah memiliki gambaran yang matang tentang bangunan pencakar langit yang hendak dibuatnya sejak dari bentuk, bahan, biaya, dan seterusnya, maka bagi sang arsitek, bangunan pencakar langit itu sudah menjadi ruang baginya, bahkan sebelum bangunan tersebut ada dalam pengalamannya.

Itu tadi di atas adalah ruang bagi manusia yang lebih kompleks daripada ruang bagi hewan. Demikian pula dengan waktu bagi manusia. Waktu bagi benda materi kasar tidak akan bisa saling menembus dan hanya bisa saling berurut. Misalnya, besok tidak akan datang sebelum hari ini habis. Keduanya tidak akan bisa saling menembus atau saling menggeser. Adapun waktu bagi benda immateri tentu saja lebih fleksibel sehingga bisa saja satu tahun dalam waktu benda materi kasar hanya satu hari dalam waktu benda immaterial. Contohnya kerinduan.

Lain lagi dengan ruang Tuhan yang sepenuhnya terbebas dari ruang dan waktu. Karena itu, ketika dikatakan Allah SWT Melihat, Mendengar, bahkan Mengampuni dan Merahmati (sebagai contoh), maka itu hanyalah waktu ‘kini’ dan sekaligus abadi atau tidak di masa lalu dan tidak masa datang atau tidak sepasial.

Cara memahami yang melampaui ruang dan waktu seperti dijelaskan tadi sesungguhnya dimiliki oleh manusia dan itulah tempat bagi intuisi. Manusia memang memahami adanya masa kini, masa lalu, dan masa datang, tetapi manusia juga memahami realitas bahwa kini, lalu, dan datang adalah satu kesatuan tak terpisahkan secara temporal-spasial. Seperti sebuah lukisan dengan berbagai warna dan gradasinya yang sesungguhnya adalah kesatuan yang menggambarkan keseluruhan. Manusia memang mengalami ruang dan waktu sebagai sesuatu yang subjektif, tetapi ruang dan waktu hanya salah satu alat dan bahkan ruang dan waktu bagi manusia tidaklah sestatis bagi hewan sehingga ruang dan waktu bagi hewan adalah batasan pengetahuan. Bagi manusia, ruang dan waktu itu dinamis dan tidak terbatas temporal-spasial. Manusia mampu merambah pengatahuan yang tidak terbatas ruang dan waktu. Itulah intuisi.[]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *