Tesis Bucaille yang viral dan diterima oleh muslim dunia, tidak kemudian dipandang positif oleh Ziauddin Sardar. Bahkan Ia menganggap fenomena ini sebagai epidemi intelektual di dunia Islam. Penggalan pernyataannya, “Bucaillism is a highly toxic combination of religious and scientific fundamentalism” (Sardar, 2006), adalah salah satu kritik tajam di antara beberapa komentarnya yang menarik untuk diulas.
Senada dengan kritik Sardar, banyak tokoh pemikir Muslim yang menganggap fenomena tersebut mencerminkan ‘kemiskinan’ intelektual yang menghambat kemajuan ilmiah dunia Muslim. Apakah mencari kesesuaian antara kosmologi Al-Quran dengan temuan astrofisika modern benar merupakan afirmasi iman atau justru manifestasi dari sindrom inferioritas umat?
Sang Intelektual Ambigu Ziauddin Sardar, lahir di Pakistan (1951) dan dibesarkan di Inggris. Ia digambarkan sebagai tokoh dengan banyak ‘topi’–baik secara profesional maupun identitas. Sardar adalah penulis, pemikir, sarjana, teoritikus, penyiar, kritikus, jurnalis, dan futuris, secara identitas adalah Muslim, Inggris, Pakistan, Asia Selatan. Sardar memiliki banyak profesi dan lebih dari satu identitas. Ambiguitas ini dianggap sebagai strategi yang sengaja dikembangkan, memungkinkannya berada di posisi unik untuk mengkritik baik tradisionalisme maupun modernisme.
Sebagai penulis, Ia telah melahirkan puluhan buku dan ratusan artikel, kontribusinya merentang dari studi Islam, kritik pasca-kolonial, hingga futurologi. Karya-karya monumentalnya mencakup “Explorations in Islamic Science” (1989), “Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come” (1985), dan “Reading the Qur’an” (2011). Ada juga karya “How Do You Know: Reading Ziauddin Sardar on Islam, Science and Cultural Relations” untuk memperkenalkan ide-ide Sardar, termasuk sebagian penulis kutip di artikel ini.
Genesis Sebuah Kritik Kritik Sardar terhadap Bucaillisme tidak muncul dari kekosongan intelektual. Sebagai jurnalis sains untuk Nature dan New Scientist pada 1970-an, Sardar melakukan ekspedisi intelektual ke berbagai negara Muslim, dari Maroko hingga Indonesia, menyaksikan langsung interaksi problematik antara kebijakan sains dan nilai-nilai Islam.
Pengembaraan Sardar di seluruh dunia Muslim menghantarkan pada simpulan bahwa ada urgensi akan praktik ilmu pengetahuan yang berbeda, yang ia sebut ‘ilmu pengetahuan Islam’ (Sardar, 2006). Sardar berusaha melakukan rekonstruksi epistemologi ilmu pengetahuan dalam dunia Islam. Ia sangat memerhatikan interaksi dari waktu ke waktu dan di berbagai tempat antara ilmu pengetahuan atau sains dan dunia Islam. Hadirnya Bucaille pun tidak luput dari perhatian Sardar.
Tiga Aliran Pemikiran Sains dan Islam Ide Sardar dalam rekonstruksi sains Islami rupanya tidak bisa menjadi lebih mainstream. Ada banyak faktor yang bisa dilacak, tetapi salah satu yang penting adalah fakta bahwa Sardar dan rekan-rekannya teralihkan oleh tiga aliran pemikiran-yang mendominasi-mengenai sains dan dunia Muslim. Ehsan Masood mengidentifikasi pertentangan tiga paradigma dominan yang meredupkan ide-ide Ziauddin Sardar (Sardar, 2006),
Pertama, Tradisionalisme, diwakili oleh Seyyed Hossein Nasr, berakar pada tradisi perenial yang melihat alam semesta sebagai teofani—manifestasi kehadiran Ilahi. Nasr menyebutnya dengan istilah ‘scientia sacra’. Bagi kaum tradisionalis, sains bukan alat manipulasi alam, melainkan contemplatio yang menghubungkan manusia dengan harmoni kosmik. Alih-alih menjadikan sains sebagai upaya problem-solving, sains lebih sebagai pencarian mistis untuk memahami Al-Haq (Sardar, 2006).
Kedua, Saintisme Konvensional, direpresentasikan oleh Abdus Salam, melihat sains sebagai netral secara nilai. Pendekatan ini, seperti analisis Pervez Hoodbhoy, menekankan otonomi metodologi sains dari pertimbangan teologis (Hoodbhoy, 1991). Para pendukungnya berargumen bahwa kemunduran sains di dunia Muslim bukan disebabkan oleh inkompatibilitas intrinsik antara Islam dan sains, melainkan faktor sosio-politik dan ketidakmampuan institusional.
Ketiga, Bucaillisme, dinamai dari Maurice Bucaille, dengan bukunya “The Bible, The Quran and Science”—yang telah dibahas di artikel sebelumnya—yang menjadi fenomena di dunia Muslim. Bucaillisme menggunakan otoritas sains untuk melegitimasi kebenaran agama—sebuah pendekatan yang paradoksalnya malah mengakui supremasi epistemik sains modern.
Tulisan-tulisan awal Sardar sangat keras mengkritik baik Nasr maupun Bucaille. Konfrontasinya dengan Nasr memuncak pada konferensi internasional di Islamabad pada April 1995. Meskipun demikian, Tradisionalisme dan Bucaillisme tetap menjadi kerangka pemikiran dominan tentang sains dan Islam di kalangan Muslim beriman (Sardar, 2006), menenggelamkan ide sains Islam Sardar.
Anatomi Kritik
Kritik Sardar terhadap Bucaillisme menyentuh berbagai lapisan mulai dari dimensi teologis, epistemologis, dan psiko-sosial fenomena ini.
Pertama, Sardar mengidentifikasi ‘an acute inferiority complex’ (rasa rendah diri yang akut) sebagai akar psikologis dari Bucaillisme. Sardar berpandangan bahwa umat Islam mengklaim Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan, tapi di sisi lain mereka tampaknya butuh validasi dari otoritas eksternal untuk memastikan kebenarannya (Sardar, 2006). Meminjam analisis Hamid Dabashi tentang “kolonialitas pengetahuan” yang menghasilkan “dislokasi epistemik”, di mana subjek kolonial mencari validasi dari standar kolonial (Dabashi, 2017).
Kedua, Sardar menyoroti paradoks epistemologis Bucaillisme: jika kebenaran Al-Quran memerlukan verifikasi ilmiah, maka otoritas ultima tidak lagi pada wahyu melainkan pada metodologi sains. Pendekatan demikian menurut Sardar justru meletakkan Al-Qur’an di meja bedah sains (Sardar, 2006), membalik hierarki epistemik tradisional Islam.
Ketiga, Bucaillisme menciptakan sakralisasi prematur teori-teori ilmiah. Ketika teori seperti Big Bang atau spekulasi tentang multiverse diklaim sebagai “yang dimaksud” oleh Al-Quran, konsekuensinya adalah teori tersebut memperoleh semacam imunitas teologis dari kritik, revisi, atau falsifikasi—yang justru esensial bagi kemajuan ilmiah. Fenomena ini mengabaikan karakter tentatif dan evolusioner dari pengetahuan ilmiah.
Penutup Bucaillisme mewakili pergeseran paradigmatik di mana penafsiran tidak lagi semata-mata upaya memahami teks suci, melainkan menjadi instrumen apologetik yang didasari oleh kompleks inferioritas teologis. Kritik Sardar berusaha membongkar lapisan-lapisan problem yang muncul dari ‘keindahan’ paradigma yang disodorkan oleh Bucaille kepada orang yang beriman.
Kritik tersebut memiliki relevansi mendalam bagi perkembangan studi Al-Qur’an di era kontemporer. Sardar membuka ruang bagi dialog yang lebih produktif antara wahyu dan penelitian empiris, di mana keduanya tidak dipandang sebagai kompetitor yang saling memvalidasi, melainkan sebagai sumber pengetahuan dengan domain dan otoritas yang berbeda namun saling melengkapi.
Sardar secara lantang meneriakkan kritiknya kepada paradigma ini. Apabila muslim terus-menerus mencari konfirmasi saintifik untuk ayat-ayat Al-Qur’an, bukankah secara tidak langsung kita mengakui bahwa otoritas Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran memerlukan stempel persetujuan dari epistemologi Barat? Bukankah pengakuan ini merupakan simtom dari penyakit intelektual yang bisa menggerogoti daya kritis dan kreativitas ilmiah dunia Muslim? Bagaimana memulihkan relasi yang sehat antara iman dan pengetahuan dalam konteks dunia Muslim kontemporer?
Referensi
Dabashi, Hamid. Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror. New York: Routledge. 2017.
Hoodbhoy, Pervez. Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality. London: Zed Books. 1991.
Sardar, Ziauddin. How Do You Know? Reading Ziauddin Sardar on Islam, Science and Cultural Relations, Ed. Ehsan Masood. London: Pluto Press. 2006.





