Tafsir Sufistik Nusantara: Analisis Penafsiran Isyari Mbah Soleh Darat atas QS. Al-Fatihah [1]: 2 dalam Kitab Faidl Rahman

Menapak tilas sejarah para mufassir Nusantara, salah satunya adalah Mbah Soleh Darat. Penafsir yang berasal dari Desa Kedung Jemblung, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara ini lahir pada tahun 1820 M dan wafat sekitar tahun 1903 M (Mustaqim, 2018: 43). Kurang lebih 86 tahun beliau menjalani kehidupan dengan berbagai rintangan dan perjuangan. Hal itu terekam dalam karya monumentalnya Tafsir Faidl Al Rahman yang menjadi rujukan masyarakat untuk mendalami nilai-nilai Islam melalui ayat Al-Qur’an.

Tafsir yang ditulis semasa penjajahan dan keterkunkungan keilmuan, menjadi tombak semangat bagi Mbah Soleh Darat untuk menerjemahkan ayat Al-Qur’an dengan tulisan ‘arab gundul’ (pegon) agar tidak dicurigai oleh Belanda. Ia pun menamai karyanya dengan Faidl al Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, tafsir Nusantara dalam Bahasa Jawa dengan aksara Arab yang selanjutnya diberikan kepada RA. Kartini sebagai hadiah pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat, seorang bupati Rembang (Munshihah, 2020: 137).

Bacaan Lainnya

Kehadiran tafsir Faidl al Rahman hanya terdeteksi beberapa jilid saja. Seperti keterangan yang penulis dapatkan jika pembukuan penafsiran ini terhenti pada surah QS. An-Nisa, dengan pembagian dua jilid. Jilid pertama memuat muqaddimah sampai QS. Al-Baqarah [2]: 286, selanjutnya jilid kedua berisi muqaddimah penulis sampai QS. An-Nisa [4]: 176 (Setiawan, 2018: 45). Kendati demikian, penulis hanya menemukan tafsir Mbah Soleh Darat hingga akhir QS. Al-Imran saja. Upaya pencarian kitab tafsir Mbah Soleh Darat telah penulis lakukan namun belum berhasil seutuhnya.  Kondisi kitab berupa scan dengan tulisan tangan, tanpa baris dan jarak tulisan yang berhimpitan juga mendorong peneliti untuk lebih cermat dalam membacanya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya jika kondisi Tafsir Faidl Rahman hanya sebagian dari 30 juz Al-Qur’an saja. Selain karena telah wafatnya Mbah Soleh Darat lebih dahulu sebelum merampungkan penulisannya, salah satu faktor yang juga mendasari adalah karena kajian tafsir Al-Qur’an kurang dianggap penting dibandingkan dengan karya-karya bergenre ilmu fiqh yang beredar di Jawa kala itu (Masrur 2012). Hingga tibalah seorang RA. Kartini yang mendesak Mbah Soleh Darat untuk menuliskan tafsir karena kuatnya rasa ingin tahu makna-makna ayat Al-Qur’an guna memahami Islam lebih dalam.

Penafsiran Sufistik Mbah Soleh Darat

Salah satu tafsiran ayat yang dapat menggambarkan lokalitas Mbah Soleh Darat ialah penafsiran QS. Al-Fatihah [1]: 2,

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Dalam penjelasannya, Mbah Soleh Darat menerangkan tentang pembagian pujian dan juga kenikmatan yang ada pada manusia. Hingga pada poin pengingat (tadzkiroh) ia menyebutkan:

Utawi wernane nikmat iku rung werno suwiji nikmat dunia kepindo nikmat agama. Utawi nikmat din iku luweh utama tenimbang nikmat dunia maka serahene lafaz alhamdulillah iku kalimah kang mulyo maka wajib arep ngerekso ing iki kalimah arep ojo disebut-sebut ingdalem perkoro ingkang ino koyo nikmat dunia sekiro-kiro aran dunia anging keno ngucap alhamdulillah nalikane ketekanan nikmat dunia yen bakal dadi nekaaken mareng nikmat din lan nekaaken mareng akhirat. Kerono dunia iku ino jember lan kalimah alhamdulillah kalimah suci ojo siro muqobalahaken kelawan barang ino.

Matsalan lamun ketekane dunia siro koyo oleh pangkat derajar sunia utowo oleh arto akeh utowo oleh wadon utowo tunggangan bagus maka ora seyoyane yento ngucap alhamdulillah kerono arah olehe nemu barangkang tenutur balek arep ngucap innalillahi wa inna ilaihi rojiun kerono dunia iku wernane firaun haman. Anging keno ngucap alhamdulillah sekirane iku dunia kang tenutur dadi biso nekaaken mareng akhirot lan nekaaken mareng Kebajikan. Moko sunnah ngucap alhamdulillah utawi puji syukur iku wajib nalikane ketekanan nikmat din tegese nikmat kang ora maksiat”. (Darat, n.d.)

Menurut hemat penulis, maksud penjelasan di atas adalah untuk mengingatkan para kaum muslimin ketika menggunakan lafal hamdalah. Sesuatu yang bersifat duniawi tanpa dapat membawa tujuan ke akhirat tidak sepatutnya disambut dengan ungkapan hamdalah. Pasalnya kalimat hamdalah merupakan simbol adanya kesyukuran karena mendapatkan nikmat yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah swt dan nikmat itu disebut dengan nikmat din/nikmat akhirat.

Secara sederhana, Mbah Soleh ingin mengajarkan hal dasar kepada para pembaca bahwa kenikmatan yang datang akan berbagai macam rupanya dan yang terpenting adalah bagaimana menjadikan kenikmatan itu agar bisa selalu mengingatkan diri kepada Allah swt. atau tujuannya adalah akhirat. Sebagai masyarakat pribumi yang kebebasan hidupnya berada dalam genggaman tangan penjajah saat itu mensinyalir akan keserampangan mengambil kebahagiaan dalam wujud nikmat keduniawiaan.

Kontruksi Sosial atas Penafsiran

            Hadirnya penafsiran Mbah Soleh Darat yang cenderung memasukkan nilai zuhud karena anjuran tujuan hidup adalah akhirat menjadikannya dikategorikan sebagai tokoh mufassir yang bercorak sufistik (Muhammad, Karim, and Fauziyah 2022). Hal itu juga dibuktikan dengan penafsirannya di beberapa ayat lain yang mencantumkan makna isyari seperti QS. Al-Baqarah [2]: 22, QS. Al-Baqarah [2]: 38, QS. Al-Baqarah [2]: 286 dan lain sebagainya (Darat, n.d.). Hal itu tidak luput dari keterpengaruhan dari pemikiran tasawuf Al Ghazali dan kitab Ihya’ Ulumuddin-nya

Selain dari keterpengaruhan Al-Ghazali, Mbah Soleh Darat juga telah melalui beberapa fase perkembangan Islam setelah perang Jawa (1825-1830 M) salah satunya fase dimana ajaran teologis nasionalis yang diwarnai tasawuf (tarekat Shattariyah) yang berakar pada unsur kepemimpinan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa mengalir pesat ke beberapa pesantren di dalam ajaran kiai guru di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dipimpin oleh ulama pendukung Diponegoro (Rosyid 2021). Sehingga dapat menjadi indikator akan corak tafsir Faidl al Rahman yang bernuansa sufistik sebab mengikut pada paham masyarakatnya.

Adanya hasil pemikiran ataupun makna ayat yang diproduksi oleh Mbah Soleh Darat tidak terlepas dari bagaimana tradisi, budaya, dan pengalaman hidup yang melingkupinya, makna yang tercipta merupakan peleburan dari makna yang dibawa oleh teks itu sendiri dan makna yang ada pada penafsir (Gadamer 2004). Kalimat alhamdulillahirabbil ‘alamin yang biasa dipahami sebagai ungkapan rasa syukur ternyata memiliki makna yang lebih dalam dengan objek tujuan yang lebih spesifik pula. Bukan hanya sekedar tersirat rasa bahagia atas nikmat yang diterima namun juga ketat akan bentuk-bentuk nikmat yang ada.

Selain penafsiran yang dipengaruhi oleh sosio-kultur masyarakatnya, sajian kitab tafsir Faidl al Rahman juga tidak luput dari hal itu. Disajikan dengan menggunakan bahasa Jawa dan aksara pegon bertujuan untuk meminimalisir terungkapnya pengajaran yang sedang dilakukan dari para penjajah. Terlebih masyarakat Jawa yang mayoritas tidak bisa berbahasa Arab mendorong Mbah Soleh Darat untuk menemukan alternatif lain agar lebih mudah dipahami, dan terciptalah tafsir dengan aksara pegon berbahasa Jawa sesuai dengan kondisi dan situasi para pembacanya.

Referensi

Darat, Soleh. n.d. Faidl al Rahman Fi Tarjama Tafsir Kalam Malik Ad-Dayyan. Singapura: H. Muhammad Amin.

Gadamer, Hans-Georg. 2004. Truth and Method. New York: Sheed & Ward Ltd and the Continuum Publishing Group.

Masrur, Mohammad. 2012. “KYAI SOLEH DARAT, TAFSIR FA’ID AL-RAHMAN DAN RA. KARTINI.” At-Taqaddum, 21–38. https://doi.org/10.21580/at.v4i1.725.

Muhammad, Hafid Nur, Dudung Abdul Karim, and Dais Hajjar Fauziyah. 2022. “Corak Sufistik Dalam Tafsir Fayd Ar-Rahman.” Ulumul Qur’an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir 2 (2): 209–25.

Munshihah, Aty. 2020. “Dimensi Sosial Dalam Tafsir Sufistik.” Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir 3 (2): 133–48.

Mustaqim, Abdul. 2018. Tafsir Jawa: Eksposisi Nalar Shufi-Isyari Kiai Sholeh Darat, Kajian Atas Surat Al-Fatihah Dalam Kitab Faidl Al-Rahman. Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta.

Rosyid, Abdur. 2021. “Pemikiran KH Sholeh Darat Tentang Pendidikan Islam Di Jawa Pada Akhir Abad XIX Dan Awal Abad XX.” Jejak Pemikiran Pendidikan Ulama Nusantara: Genealogi, Historiografi, Dan Kontekstualisasi Pendidikan Islam Di Nusantara 117. https://books.google.com/books?hl=id&lr=&id=iKdVEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA117&dq=+mbah+soleh+darat+&ots=jy2vuwMxq5&sig=-ucgd2XSzbGOP7xlmrn-VUJyLJI.

Setiawan, Heru. 2018. “Tafsir Alif Lam Mim Kyai Shalih Darat.” Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 6 (1): 37–62.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *