Memahami Yang Kudus
Karen Armstrong memandang bahwa krisis lingkungan disebabkan oleh cara hidup modern yang justru dianggap sebagai prestasi tertinggi umat manusia (Karen Armstrong, 2023: 14). Cara hidup modern itu sendiri lahir dari sebuah sistem kepercayaan tentang tidak adanya yang kudus atau desakralisasi. Semula, yang sakral dan menjadi sasaran kritik oleh modernitas adalah otoritas agama dan juga filsafat. Konsekuensinya adalah bahwa segala hal yang dianggap adikodrati atau sakral dalam agama dan filsafat kemudian dilihat sebagai semata-mata kodrati dan profan atau natural, bukan supranatural (F. Budi Hardiman, 2019: 6-7).
Jika krisis lingkungan hendak ditanggulangi, Armstrong mengusulkan agar sistem kepercayaan tentang adanya yang kudus harus dikembalikan. Konsekuensinya, alam tidak semata-mata natural tetapi juga supranatural, adikodrati, dan sakral. Pandangan tentang alam kudus tidak harus tentang keyakinan terhadap dewa-dewa yang menguasai semesta atau berada di balik semua yang ada. Lebih utama tentang alam kudus adalah tentang alam yang juga hidup dalam dimensinya sendiri, sebagaimana manusia, sehingga ada relasi saling timbal balik tak terelakkan antara keduanya sebagai sama-sama hidup (Karen Armstrong, 2023: 15). Keyakinan terhadap dewa-dewa spesifik dan terkonsep justru sering bertentangan dengan spirit alam kudus.
Relasi timbal balik antara organisme terjadi di sebuah lingkungan fisik sering disebut ekosistem (Alkistis Elliott-Graves, 2024). Alam pikiran modern memandang ekosistem memang selalu dalam interaksi dan relasi antara organisme dengan organisme lain dan dengan lingkungan abiotiknya, tetapi selalu dalam konteks the struggle for existence sebagaimana dicetuskan oleh Charles Darwin. Karena itu, interaksi yang terjadi tidak lebih merupakan pertarungan untuk hidup dan melahirkan yang terkuat (survival of the fittest). Akibatnya, jika dikaitkan dengan manusia, maka relasi yang terjadi adalah relasi yang timpang di mana manusia adalah subjek penakluk dan alam semesta atau manusia lain adalah objek taklukan.
Sebagaimana konsep ekosistem adalah kenyataan, maka kehidupan dan relasi antara manusia dengan alam non manusia, termasuk benda-benda (yang dianggap) mati dalam bentuk alam kudus bukanlah sebuah keyakinan, tetapi adalah kenyataan. Sebuah ruangan tamu yang terisi beberapa kursi dan meja menjadi tampak berbeda ketika sebuah pot berisi bunga yang sedang mekar ditaruh di pojok ruangan. Seakan-akan ada kekuatan kehidupan yang tiba-tiba hadir di sana.
Dinamika Relasi Alam dan Manusia
Ada sebuah zaman yang disebut oleh Karen Armstrong, setelah mengutip Karl Jespers, sebagai Zaman Aksial. Itu adalah zaman sekitar 900 hingga 200 SM ketika terjadi perkembangan penting dalam spiritualitas manusia di empat wilayah berbeda yaitu Konfusionisme dan Taoisme di Cina, Hiduisme dan Buddhisme di India, monoteisme di Israel, dan rasionalisme di Yunani. Orang-orang yang menjadi pencetusnya adalah Buddha, Sokrates, Konfusius, dan Yeremia, mistikus Upahishad, Mensius dan Euripedes (Karen Armstrong, 2013: xxviii).
Spiritualitas Zaman Aksial tidak memiliki ketertarikan terhadap doktrin atau metafisika atau keyakinan teologis sehingga hampir-hampir tidak ada pembicaraan tentang Tuhan. Jadi tidak ada semacam teologi pada mereka karena teologi adalah pembicaraan tentang Tuhan. Doktrin, metafisika maupun teologi adalah sebentuk spiritualitas yang tidak dewasa, tidak realistis, dan menyesatkan (Karen Armstrong, 2013: xxx). Tidak dewasa karena lebih bertujuan mencari perbedaan dan keunggulan yang sebenarnya tidak pernah ada, tidak realistis karena lebih merupakan simplipikasi dari realitas yang sesungguhnya, dan menyesatkan karena apapun gambaran tentant Tuhan pasti bukan itu. Dengan menghindari pembicaraan, spiritualitas Zaman Aksial tidak ingin ada pemaksaan doktrin terhadap orang lain karena jalan spiritual masing-masing orang berbeda karena bersifat pribadi dan karena itu, tidak mungkin jalan seseorang menilai spiritualitas orang lain.
Inti dari spiritualitas Zaman Aksial adalah aksi dan perilaku yang berdasar kepada berbela rasa, bukan teologi. Meski demikian, ritual yang sudah ada sejak sebelum Zaman Aksial tetap dipelihara tetapi diberi arti penting etis dengan cara meletakkan moralitas di jantung kehidupan spiritual. Puncak pengalaman spiritual adalah dengan berbuat baik dan teguh menjalankannya hingga menjadi kebiasaan, bukan keyakinan metafisis lewat rumusan teologis (Karen Armstrong, 2013: xxx-xxxi).
Karena tidak adanya rumusan teologis yang penting, kebaikan tidak akan terbentur tembok-tembok teologi kala perbuatan baik lebih utama jika diberikan kepada mereka yang memiliki keyakinan yang sama dan memusuhi mereka yang memiliki keyakinan berbeda. Tembok-tembok yang harus dihancurkan bukanlah teologi tetapi egotisme diri, ketamakan, kekerasan, dan kekejaman. Itulah cara untuk menyelamatkan dunia (Karen Armstrong, 2013: xxxi).
Karena tidak adanya rumusan teologis tentang Tuhan, maka hampir-hampir tidak ada pembedaan antara alam dengan manusia dalam spiritualitas Zaman Aksial sehingga hampir-hampir bisa dikatakan bahwa wujud Tuhan adalah alam itu sendiri dan wujud alam adalah Tuhan itu sendiri. Ini tentu saja juga semacam “perumusan teologis” yang justru tidak diminati oleh Zaman Aksial itu sendiri. Karena itu, relasi antara manusia dengan alam dan juga dengan manusia sendiri selalu dalam konteks kudus.
Armstrong mengidamkan spirit Zaman Aksial untuk ditarik ke masa kini dalam rangka membangun konsepnya tentang alam kudus sebagai kritik kepada modernitas yang mengakibatkan krisis lingkungan. Untuk itu, Armstrong meminjam cara berfikir era Romantik yang memahami bahwa hidup tidak terpisahkan dari benda materi. Manusia tidak berada di luar dunia, seolah-olah berhadap dengan alam. Manusia adalah bagian dari alam dan manusia sesungguhnya adalah materi yang mengalami spiritualisasi. Oleh era Romantik, Alam ditulis dengan A besar (Ryan Magee, 2008: 156). Memang ada kemiripan cara berfikir antara Zaman Aksial dengan era Romantik meski terpaut zaman yang sangat lama.
Agama-agama monoteis sejak Yahudi, Kristen, hingga Islam memiliki sedikit cara berfikir yang mirip Zaman Aksial, tetapi dominannya tidak. Teolog Dominikan, Thomas Aquinas (1225-1274) mengemukakan bahwa Tuhan tidak terikat pada suatu surga supranatural, melainkan “hadir di mana-mana dalam segala sesuatu”. Tuhan bukan suatu wujud, melainkan merupakan “Wujud Itu Sendiri”. Tuhan adalah semua yang ada (Karen Armstrong, 2023: 18). Cara berfikir ini mirip dengan Zaman Aksial.
Seorang filsuf Fransiskan, John Duns Scotus (1265-1308) adalah salah seorang yang mengembangkan teologi rasional dalam Kristen yang nyaris saintifik. Sebuah perubahan memahami Tuhan terjadi. Tuhan mulai dianggap sebagai wujud lain yang meskipun lebih tinggi tetapi terpisah dari wujud-wujud lain (Karen Armstrong, 2023: 19). Aquinas sudah mulai ditinggalkan dan Tuhan menjadi tidak segalanya. Konsekuensinya, relasi manusia dengan alam tidak lagi dalam konteks kudus.
Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1626) benar-benar menabuh gong putusnya relasi antra manusia dengan alam ketika memelopori filsafat yang bersifat empiris-eksperimental yang meyakini manusia mampu menemukan hukum-hukum yang mengatur kekuatan-kekuatan alam dan nanti bisa dieksploitasi seturut kepentingan manusia. Relasi manusia dengan alam tidak hanya tidak lagi kudus tetapi sudah menjadi eksploitasi subjek terhadap objek.
Modernitas tidak berasal dari Islam. Karenanya, tidak ada di antara dinamika keagamaan Islam yang memberikan sumbangan signifikan terhadap modernitas yang nantinya mengakibatkan krisis lingkungan. Islam tidak bertanggung jawab secara langsung dalam hal itu. Namun karena Islam juga hidup di bumi yang sama dengan agama-agama lain, maka tidak keliru jika Islam juga perlu turut memberi sumbangan pemikiran atas krisis lingkungan yang sedang terjadi.
Alam Kudus di dalam Al-Qur`an
Sebagai agama yang termasuk dalam tradisi yang serumpun dengan Yahudi dan Kristen, Islam juga lebih disibukkan oleh upaya meneguhkan Tuhan Yang Maha Esa daripada urusan lain. Posisi alam hampir-hampir tidak mendapat ruang yang cukup selain sabagai alat bagi manusia untuk mewujudkan fitrahnya sebagai khalifah atau sebagai alat untuk manusia mencapai kesempurnaannya.
Sebagaimana ada kritik terhadap teologi Kristen seperti disebutkan di atas, maka juga ada kritik bagi teologi Islam. Salah seorang yang melancarkan kritik terhadap teologi Islam adalah Hassan Hanafi. Bedanya, kritik terhadap teologi Kristen mengapungkan sejarah terputusnya relasi manusia dengan alam; sedangkan kritik terhadap teologi Islam mengapungkan sejarah absolutitas kekuasaan politik yang berakibat pada mandulnya teologi Islam bagi kesejahteraan umat manusia Hassan Hanafi, 2003: xx).
Teologi Islam terbukti menjadi ajang pertunjukan ketidakdewasaan, kejauhan dari realitas, dan penyesatan satu-sama lain. Hal itulah yang dihindari oleh spiritualitas Zaman Aksial. Teologi Islam juga terbukti tidak memberi ruang bagi alam selain manusia untuk memiliki tempat. Manusia pun hanya memiliki ruang yang sempit. Satu-satunya yang memiliki ruang hanyalah Tuhan dan itupun Tuhan yang transenden dan jauh entah di mana. Tidak imanen di sini.
Menurut Lutz Wiederhold, di dalam Al-Qur`an, Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, tetapi secara jelas Al-Qur`an juga menyebutkan tentang fenomena profan sehingga tidak berarti segala ciptaan Tuhan adalah kudus. Al-Qur`an adalah salah satu yang kudus, tetapi selain Al-Qur`an banyak yang tidak kudus. Membaca Al-Qur`an juga adalah tindakan kudus karena seperti membuka komunikasi dengan Tuhan (Lutz Wiederhold, 2001: 280).
Saat menyebutkan yang kudus, Al-Qur`an memiliki kosa kata h-r-m dan q-d-s. Untuk h-r-m, ada kata al-masjid al-harâm dalam, salah satunya, QS. Al-Baqarah/2: 144; al-masy’ar al-harâm dalam QS. Al-Baqarah/2: 198; al-bayt al-harâm dalam QS. Al-Maidah/5: 2, haram âmin dalam QS. Al-Qashash/28: 57; hurumât dalam QS. Al-Hajj/22: 30; ihrâm dalam QS. Al-Maidah/5: 1; al-syahr al-harâm dalam QS. Al-Baqarah/2: 194; al-asyhur al-hurum dalam QS. Al-Taubah/9: 36. Kekudusan yang dimaksud di dalam ayat-ayat tersebut adalah kekudusan tempat dan waktu tertentu yang berkonsekuensi larangan untuk melakukan hal-hal tertentu pula yang disebut ihrâm demi untuk menjaga kekudusan. Kekudusan terjadi karena banyaknya malaikat yang hadir di tempat atau waktu tertentu terebut. Jadi, pelarangan terhadap sesuatu bisa berarti menjadikan sesuatu itu sakral (Lutz Wiederhold, 2001: 281-282).
Untuk q-d-s, ada tempat bernama lembah Thuwa yang kudus/dikuduskan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Thaha/20: 12; ada sifat Allah SWT yaitu Quddûs dalam QS. Al-Hasyr/59: 23; ada Malaikat Jibril yang disebut rûh al-qudus dalam QS. Al-Baqarah/2: 87; dan ada Dome of the Rock di Yerusalem yang disebut al-ardh al-muqaddasah dalam QS. Al-Ma`idah/5: 21. Berkebalikan dengan h-r-m ada istilah h-l-l yang bisa berarti kebolehan atau kebebasan dari aturan seperti di dalam QS. Al-Baqarah/2: 228-230; dan ada pula larangan untuk h-l-l demi menjaga kesakralan seperti bulan-bulan haram sebagaimana dalam QS. Al-Maidah/5: 2 (Lutz Wiederhold, 2001: 282).
Lewat term h-r-m dan q-d-s tampak bahwa Al-Qur`an berbeda dengan konsep alam kudus karena bagi Al-Qur`an, tidak semua alam adalah kudus meskipun ada yang kudus dan ada tindakan manusia yang kudus jika diperlukan untuk menjaga kekudusan alam dalam bentuk ruang dan waktu. Hal itu terjadi karena ada pembedaan yang ketat dalam Al-Qur`an tentang mana yang Tuhan dan mana yang bukan Tuhan.
Karen Armstrong
Modernitas
Al-Qur`an
Manusia adalah kudus
Manusia adalah tidak kudus
Manusia adalah kudus
Alam seluruhnya kudus
Alam seluruhnya profan
Alam ada yang kudus dan ada yang profan
Alam memiliki kehidupan
Alam tidak memiliki kehidupan
Alam memiliki kehidupan
Seluruhnya Tuhan
Tidak ada Tuhan
Ada Tuhan dan ada bukan Tuhan
Manusia bukan subjek dan alam juga bukan subjek
Manusia adalah subjek dan alam adalah objek
Manusia adalah subjek bersama alam
Menolak teologi
Menolak teologi
Mengagungkan teologi
Aksi berisfat sakral
Aksi bersifat profan
Aksi bersifat sakral dan profan
Meski hanya sedikit yang kudus, tetapi manusia termasuk yang kudus menurut Al-Qur`an karena adanya ruh Allah SWT yang ditiupkan ke dalam diri manusia sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hijr/15: 29. Selain manusia, ada beberapa tempat dan waktu yang juga kudus, termasuk perbuatan manusia yang berkaitan dengan waktu dan tempat yang kudus, sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang term h-r-m dan q-d-s dalam Al-Qur`an.
Meski tidak semua alam kudus, tetapi menurut Al-Qur`an, semua alam memiliki kehidupan. Hal ini sama dengan spiritual Zaman Aksial. Dalam banyak tempat di dalam Al-Qur`an disebutkan betapa benda matipun bertasbih kepada Allah SWT. Al-Qur`an menyebutkan bahwa langit, bumi, apapun yang ada di langit dan bumi, guruh, burung-burung, gunung-gunung, hingga segala sesuatu bertasbih kepada Allah SWT. Beberapa ayat yang menyebutkan itu adalah QS. Al-Hadid/57:1, Al-Hasyr/59:1, Aṣh-Shaff/61:1, Al-Isra/17:44, QS. Ar-Ra‘d/13:13, QS. An-Nur/24:41, QS. Al-Jumu‘ah/62:1, QS. At-Tagābun/64:1, QS. Al-Anbiya’/[21:79, QS. Shad/38:18.[]
Bahan Bacaan
Armstrong, Karen, Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam, Bandung: Mizan, 2023.
Armstrong, Karen, The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan, Bandung: Mizan, 2013.
Elliott-Graves, Alkistis, “Ecology”, dalam https://plato.stanford.edu/entries/ecology/#WhatScieDiscCallEcol. Diakses pada 23 Maret 2024.
Hanafi, Hassan, Dari Akidah ke Revolusi: Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama, Jakarta: Paramadina, 2003.
Hardiman, F. Budi, Pemikiran Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzche, Yogyakarta: Kanisius, 2019.
Magee, Ryan, The Story of Philosophy: Kisah Tentang Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Wiederhold, Lutz, “Profane and Sacred”, dalam Jane Dammen McAuliffe, Encyclopaedia of the Qur`an, Jilid 4, Leiden: Brill, 2001.





