Kajian terhadap al-Qur’an di Barat memiliki perjalanan panjang dan berliku. Ia bermula dari rasa ingin tahu bercampur prasangka pada masa perang salib, berkembang menjadi disiplin akademik modern yang rasional, lalu berubah lagi menjadi upaya hermeneutik yang lebih dialogis. Sejarah panjang ini menunjukkan bagaimana teks suci Islam dibaca, ditafsirkan, bahkan dikritisi dari berbagai sudut pandang intelektual di Eropa.
Akar Orientalisme: Antara Ingin Tahu dan Kuasa
Istilah Orientalisme mengacu pada tradisi studi Barat terhadap dunia Timur, khususnya Islam. Dalam pengertian klasiknya, orientalisme bukan sekadar kajian ilmiah, tetapi juga mencerminkan cara pandang superior Barat terhadap Timur. Edward Said (1978) menegaskan bahwa orientalisme merupakan proyek pengetahuan yang sarat kepentingan politik alat ideologis untuk memahami dan menguasai dunia Islam pasca-Perang Salib dan ekspansi kolonial.
Sejak abad ke-17, studi tentang Islam mulai diinstitusikan di Eropa. Bahasa Arab dipelajari bukan semata untuk memahami al-Qur’an, melainkan juga untuk kepentingan misionaris, diplomatik, dan administrasi kolonial. Namun di balik itu, berkembang pula benih keingintahuan akademik yang lebih jujur: bagaimana memahami teks wahyu dalam konteks sejarah dan kebahasaan.
Tradisi Akademik di Eropa: Dari London hingga Andalusia
Perjalanan kajian Islam di Eropa sangat beragam dan mencerminkan karakter intelektual masing-masing negara.
Inggris menjadi pelopor dengan tokoh-tokoh seperti William Bedwell dan George Sale, yang menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-18. Abad ke-20 menandai kemunculan School of Oriental and African Studies (SOAS) London menjadi pusat kajian Islam yang berpengaruh hingga kini. Studi Islam di Inggris dimulai pada abad ke-12 dan berkembang melalui hubungan perdagangan serta pembukaan kursi bahasa Arab di Cambridge dan Oxford pada abad ke-17. Tokoh-tokoh seperti William Bedwell dan George Sale berperan penting dalam memperkenalkan bahasa Arab dan menerjemahkan Al-Qur’an (Kurtuluş, 2000, p. 310).
Pada abad ke-19 dan ke-20, studi Islam semakin berkembang dengan didirikannya lembaga-lembaga seperti SOAS di London. Setelah Perang Dunia II, dukungan pemerintah meningkat, namun mulai berkurang sejak tahun 1980-an, sehingga universitas-universitas menjadi lebih bergantung pada mahasiswa internasional. Meskipun demikian, studi Islam tetap aktif di universitas-universitas, lembaga swasta, dan perpustakaan besar (Kurtuluş, 2000, p. 311).
Kajian al-Qur’an di Jerman memiliki akar yang panjang dalam tradisi orientalisme Eropa. Sejak abad ke-19, para sarjana Jerman telah menunjukkan minat yang besar terhadap studi filologis dan historis terhadap teks suci Islam ini. Namun, pendekatan mereka sering kali bersifat kritis, bahkan skeptis terhadap sumber-sumber keislaman. Tokoh-tokoh seperti Theodor Nöldeke (1836–1930) menandai era awal kajian Qur’an Jerman melalui karyanya Geschichte des Qorans (Sejarah al-Qur’an), yang menjadi rujukan utama bagi banyak peneliti Barat setelahnya.
Nöldeke dan generasi orientalis setelahnya memandang al-Qur’an sebagai teks historis yang lahir dari konteks sosial Arab pra-Islam. Pendekatan filologis mereka berusaha menelusuri asal-usul, kronologi, dan evolusi redaksi wahyu. Pandangan ini pada satu sisi membuka ruang bagi studi akademik yang ketat, namun pada sisi lain menimbulkan jarak teologis dengan tradisi Muslim yang melihat al-Qur’an sebagai kalam ilahi yang bersifat transenden.
Memasuki abad ke-20 dan ke-21, orientasi studi Qur’an di Jerman mulai mengalami perubahan. Sarjana-sarjana baru seperti Angelika Neuwirth dan Stefan Wild memperkenalkan pendekatan hermeneutik yang lebih interdisipliner. Neuwirth, misalnya, dalam proyek Corpus Coranicum di Berlin-Brandenburg Academy of Sciences, menekankan pentingnya membaca al-Qur’an sebagai teks yang hidup dalam dialog budaya dan agama di Jazirah Arab abad ke-7. Ia berupaya mengembalikan konteks sejarah al-Qur’an tanpa menegasikan nilai teologisnya.
Kecenderungan baru ini menciptakan jembatan antara dunia akademik Barat dan tradisi tafsir Islam. Di universitas-universitas seperti Berlin, Göttingen, dan Bonn, studi al-Qur’an kini melibatkan disiplin lain seperti antropologi, filologi Semitik, studi kitab suci perbandingan, hingga teologi Islam kontemporer. Kajian al-Qur’an di Jerman pun menjadi ruang dialog yang mempertemukan kritik ilmiah dengan penghormatan terhadap tradisi keagamaan (Kurtuluş, 1989, pp. 522–524).
Austria mengembangkan studi Islam sejak abad ke-16 melalui Viyana Doğu Akademisi. Salah satu tokoh terkenal dari akademi ini adalah Joseph von Hammer-Purgstall, yang menulis banyak buku tentang sejarah dan sastra Ottoman. Orientalis seperti Meninski, Dombay, dan Sprenger juga memainkan peran penting dalam penerbitan karya-karya klasik Islam. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, studi Islam di Austria berkembang berkat dukungan pemerintah dan kepentingan kolonial. Wina menjadi pusat penting bagi studi Timur dan Islam di Eropa. Banyak akademisi Austria menerbitkan teks-teks penting tentang bahasa Arab, Persia, dan Turki, serta sejarah dan sastra mereka. Institusi seperti Institut Orientalistik Universitas Wina dan Akademi Diplomasi juga mendukung perkembangan studi ini (Dursun, 1991, pp. 179–182).
Belanda menonjol melalui Universitas Leiden. Tokoh legendarisnya, Snouck Hurgronje, bukan hanya orientalis, tetapi juga peneliti lapangan yang mendalami kehidupan umat Islam di Indonesia. Studi Islam di Belanda dimulai pada akhir abad ke-16 dengan pendirian Universitas Leiden dan pengajaran bahasa Arab, Persia, dan Turki. Tokoh-tokoh awal seperti Erpenius dan Golius memberikan kontribusi penting, dan koleksi manuskrip Levinus Warnerus menjadi dasar koleksi Timur Leiden.
Pada abad ke-18 dan ke-19, studi Islam berkembang secara filologis dan historis dengan tokoh-tokoh seperti Snouck-Hurgronje. Pengaruh kolonialisme memperluas fokus studi, terutama terkait dengan Indonesia. Sejak abad ke-20, studi Islam di Belanda menjadi semakin interdisipliner, mencakup hukum, tasawuf, filsafat, dan hubungan Islam-Kristen, dengan Universitas Leiden dan penerbit E. J. Brill sebagai pusatnya (Groot, 1998, pp. 229–232).
Prancis, dengan tradisi filologinya, melahirkan nama-nama seperti Guillaume Postel, d’Herbelot, dan Silvestre de Sacy. Sejak ekspedisi Napoleon ke Mesir, studi Islam di Prancis menggabungkan semangat ilmiah dan kepentingan politik. Antara abad ke-14 dan ke-17, pembukaan mata kuliah bahasa Timur di universitas-universitas dan pendirian sekolah-sekolah khusus seperti Institut Nasional Bahasa dan Peradaban Timur telah menjadikan Prancis sebagai pusat penelitian Orientalis di Eropa.
Tokoh-tokoh penting seperti Guillaume Postel, Barthélemy d’Herbelot, Antoine Galland, dan Silvestre de Sacy memimpin studi sistematis tentang Islam, meskipun seringkali disertai dengan prasangka dan kritik. Pada abad ke-18 dan ke-19, terutama setelah ekspedisi Napoleon ke Mesir, penelitian tentang sejarah dan budaya Islam berkembang, yang meningkatkan minat Prancis terhadap dunia Muslim secara ilmiah dan politik. Namun, penelitian ini juga ditandai dengan sikap ambigu yang terdiri dari kekaguman dan kritik terhadap Islam dan umat Muslim (Bilici, 1996, pp. 190–193).
Italia lebih menonjol dalam bidang filologi dan sejarah kebudayaan Islam. Tokoh seperti Giorgio Levi Della Vida dan Michele Amari meneliti manuskrip Arab dan peran Islam di Sisilia serta Afrika Utara. Di Roma, lembaga-lembaga seperti Istituto per l’Oriente dan Accademia Nazionale dei Lincei, serta akademisi terkemuka seperti Giorgio Levi Della Vida, telah berkontribusi pada perkembangan studi Islam sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Di Napoli, Collegio Asiatico dan publikasinya telah mendukung penelitian khususnya dalam bidang sejarah dan seni Turki.
Di Palermo, pengajaran bahasa Arab dan studi budaya Islam terus berlanjut berkat tokoh-tokoh seperti Michele Amari, dan berbagai pusat penelitian didirikan. Venesia memainkan peran dalam penyebaran bahasa-bahasa Timur melalui percetakan awal dan pengajaran bahasa, dan berkat ilmuwan seperti Maria Nallino, kursi bahasa Arab dibuka. Di kota-kota lain, studi Timur Tengah terus berlanjut melalui perpustakaan dan universitas. Peneliti terkemuka seperti Pietro Della Valle, Ignazio Guidi, dan Luigi Bonelli telah memberikan kontribusi penting terhadap sejarah kaya studi Islam dan Timur Tengah di Italia (Şakiroğlu, 2001, pp. 453–454).
Kajian Islam di Spanyol dimulai pada abad ke-10 ketika minat terhadap warisan ilmiah dan budaya Al-Andalus meningkat, terutama pada abad ke-12 ketika kegiatan terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin di Toledo membantu menyebarkan pengetahuan ilmiah ke Eropa. Andalusia menjadi pusat budaya penting pada abad pertengahan dan Renaisans berkat kontribusi para cendekiawan Muslim dan Yahudi. Ini terjadi dalam bidang-bidang seperti filsafat, kedokteran, dan matematika.
Pada abad keenam belas dan ketujuh belas, para ahli sejarah lebih fokus membahas interaksi antara Morisco dan Ottoman dari sudut pandang politik, sementara di abad kesembilan belas, pendekatan yang lebih ilmiah dan objektif mulai muncul. Di era modern, universitas dan lembaga riset di Spanyol, khususnya sejak abad kedua puluh, telah mengkhususkan diri dalam aspek budaya dan Sejarah Islam; institusi seperti Escuela de Estudios Árabes dan CSIC terus melanjutkan penelitian dalam bidang ini (Özdemir, 2001, pp. 173–176).
Penutup
Perjalanan panjang kajian al-Qur’an di Eropa memperlihatkan perubahan orientasi yang signifikan. Dari proyek kolonial yang sarat ideologi, menjadi upaya ilmiah yang rasional, hingga berkembang ke arah hermeneutika yang lebih dialogis dan lintas budaya.
Hari ini, banyak sarjana Muslim dan non-Muslim bekerja bersama di universitas-universitas Eropa untuk meneliti al-Qur’an tidak lagi sebagai “objek eksotis dari Timur”, tetapi sebagai teks keagamaan yang hidup dan berdaya tafsir universal. Maka, kisah panjang orientalisme tidak berhenti pada kritik Edward Said, tetapi terus bergerak menuju pertemuan makna—antara akal Barat dan ruh Islam, antara ilmu dan iman.
Referensi
Bilici, F. (1996). Fransa’da İslâm Araştirmaları. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/fransa#6-fransada-islam-arastirmalari
Dursun, D. (1991). Avusturya’da İslam Araştirmalari. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/avusturya#5-islam-arastirmalari
Groot, A. H. De. (1998). Hollanda’da İslâm Araştirmalari. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/hollanda#5-hollandada-islam-arastirmalari
Kurtuluş, R. (1989). Almanya’da İslâm Araştirmalari. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/almanya#4-almanyada-islam-arastirmalari
Kurtuluş, R. (2000). İngiltere’de İslâm Araştirmalari. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/ingiltere#5-ingilterede-islam-arastirmalari
Özdemir, M. (2001). İspanya’da İslâm Araştirmaları. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/ispanya#4-ispanyada-islam-arastirmalari
Şakiroğlu, M. H. (2001). İtalya’da İslam araştırmaları. TDV İslâm Ansiklopedisi. https://islamansiklopedisi.org.tr/italya#5-italyada-islam-arastirmalari





